<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for PERTAMPILAN  S. BRAHMANA, KORBAN DAMPAK</title>
	<atom:link href="http://brahmana-medan.blog.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://brahmana-medan.blog.com</link>
	<description>Ref. Mei 1998 Di Bdg Pend. Di Prog Studi S3 Kaj. Budaya Univ. Udayana Denpasar Thn 2005. Tukang Gung2nya Drs. I Wyn Mudana Buda, Msi.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 May 2010 01:24:56 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2-bleeding</generator>
	<item>
		<title>Comment on  by Henndy Ginting</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2009/07/25/5190285/comment-page-1/#comment-34</link>
		<dc:creator>Henndy Ginting</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 01:24:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brahmana-medan.blog.com/?p=5190285#comment-34</guid>
		<description>Mejuah-juah Kalimbubu,

Petandaken gelarku Henndy Ginting. Kita tading i 
Bandung. Aku ngajar i Fakultas Psikologi Universitas 
Kristen Maranatha. Adi lit waktundu, tolong masukken 
abstrak penelitianndu kerna Kalak Karo ku 
http://cicp.psikologi.ugm.ac.id/. Enggo ku usulken 
gelah lit sada kelas symposia kerna Karo 
(Karonese Cultural Psychology) bas konferensi e. Enggo
ka pe kunegosiasiken gelah banci lewat deadline untuk
memasukken deadline.

Salam,

Hg</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mejuah-juah Kalimbubu,</p>
<p>Petandaken gelarku Henndy Ginting. Kita tading i<br />
Bandung. Aku ngajar i Fakultas Psikologi Universitas<br />
Kristen Maranatha. Adi lit waktundu, tolong masukken<br />
abstrak penelitianndu kerna Kalak Karo ku<br />
<a href="http://cicp.psikologi.ugm.ac.id/" rel="nofollow">http://cicp.psikologi.ugm.ac.id/</a>. Enggo ku usulken<br />
gelah lit sada kelas symposia kerna Karo<br />
(Karonese Cultural Psychology) bas konferensi e. Enggo<br />
ka pe kunegosiasiken gelah banci lewat deadline untuk<br />
memasukken deadline.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Hg</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO by tika</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/27/marga-sembiring-pada-masyarakat-karo/comment-page-1/#comment-32</link>
		<dc:creator>tika</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 02:27:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-32</guid>
		<description>mana data yg lain bang ua?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mana data yg lain bang ua?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO by Anonymous</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/27/marga-sembiring-pada-masyarakat-karo/comment-page-1/#comment-15</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 16:25:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-15</guid>
		<description>Mejuah-juah, pak bram... &lt;br /&gt;
Aku Pardis Kembaren... mudah-mudah masih ingat... sewaktu masih di USU, sering ketemu di PUSKOM USU hehehe.. Tadi kebetulan iseng-iseng sebelum tidur searching tentang karo.. ketemu blog ndu ini.. Uhmm, tapi agak kaget dengan daftar submarga sembiring di tulisandu pada no 17. Sinukaban. Saya Kembaren bere-bere Sinukaban dan setahu saya Sinukaban ini submarga karo-karo... Salah ketik atau memang ada penjelasan lain, pak? &lt;br /&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mejuah-juah, pak bram&#8230; <br />
Aku Pardis Kembaren&#8230; mudah-mudah masih ingat&#8230; sewaktu masih di USU, sering ketemu di PUSKOM USU hehehe.. Tadi kebetulan iseng-iseng sebelum tidur searching tentang karo.. ketemu blog ndu ini.. Uhmm, tapi agak kaget dengan daftar submarga sembiring di tulisandu pada no 17. Sinukaban. Saya Kembaren bere-bere Sinukaban dan setahu saya Sinukaban ini submarga karo-karo&#8230; Salah ketik atau memang ada penjelasan lain, pak? </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO by Anonymous</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/27/marga-sembiring-pada-masyarakat-karo/comment-page-1/#comment-14</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 04:42:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-14</guid>
		<description>Untuk Desi Ginting&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kam mau mempelajari adat Karo Turang, kam harus aktif dalam acara-acara yang berhubungan dengan tradisi Karo, belajar adat Karo tidak bisa hanya teori-teori doang. Tentang tarian Karo, bila kam berada di Medan, kam bisa tanya dimana ada sanggar-sanggar tari yang mengajarkan tari Karo. Tentang Merga Ginting, aku gak punya data, tapi ada dulu aku lihat tulisan ini dijual dalam bentuk fotokopian. Besar bukunya sebesar buku saku. Dulu aku punya, tetapi sekarang aku gak nemu lagi buku di perpustakan pribadiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang yang lain-lain seperti chat kam bisa tanya pada orang lain. Aku gak mahir soal chat menchat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mejuah-juah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertampilan S. Brahmana</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Desi Ginting</p>
<p>Kalau kam mau mempelajari adat Karo Turang, kam harus aktif dalam acara-acara yang berhubungan dengan tradisi Karo, belajar adat Karo tidak bisa hanya teori-teori doang. Tentang tarian Karo, bila kam berada di Medan, kam bisa tanya dimana ada sanggar-sanggar tari yang mengajarkan tari Karo. Tentang Merga Ginting, aku gak punya data, tapi ada dulu aku lihat tulisan ini dijual dalam bentuk fotokopian. Besar bukunya sebesar buku saku. Dulu aku punya, tetapi sekarang aku gak nemu lagi buku di perpustakan pribadiku.</p>
<p>Tentang yang lain-lain seperti chat kam bisa tanya pada orang lain. Aku gak mahir soal chat menchat.</p>
<p>Mejuah-juah</p>
<p>Pertampilan S. Brahmana</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO by DESINTA</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/27/marga-sembiring-pada-masyarakat-karo/comment-page-1/#comment-13</link>
		<dc:creator>DESINTA</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 11:09:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-13</guid>
		<description>MEJUAH-JUAH.&lt;br /&gt;
aq desi ginting.&lt;br /&gt;
aq mw tw lebih dlm lg dnk tentang adat karo.gmn cra mempelajari tarian karo,tentang marga ginting,n ada ga tempat org2 karo chat.tlg bantu saya untuk mempelajari adat karo di D.E.S_021291@YAHOO.COM.&lt;br /&gt;
BUJUR</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>MEJUAH-JUAH.<br />
aq desi ginting.<br />
aq mw tw lebih dlm lg dnk tentang adat karo.gmn cra mempelajari tarian karo,tentang marga ginting,n ada ga tempat org2 karo chat.tlg bantu saya untuk mempelajari adat karo di <a href="mailto:D.E.S_021291@YAHOO.COM">D.E.S_021291@YAHOO.COM</a>.<br />
BUJUR</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR by Anonymous</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2007/03/07/pengalaman-tugas-belajar-di-universitas-udayana-denpasar/comment-page-1/#comment-20</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 09:48:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-20</guid>
		<description>Peristiwa yang bapak alami sering terjadi di Universitas Negeri Lainnya.&lt;br /&gt;
walaupun letak permasalahannya berbeda. saya juga mengalami permasalahan menyangkut studi saya di IPB.walaupun saat ini status saya masih aktif namun terancam. ketidak adilan tersebut menyangkut :&lt;br /&gt;
1. Besar SPP untuk mahasiswa BPPS dan Non BPPS sangat berbeda jauh.&lt;br /&gt;
   besarnya SPP mahasiswa penerima BPPS lebih besar dari pada  &lt;br /&gt;
   mahasiswa&lt;br /&gt;
   non - BPPS (Mahasiswa Sponsor sendiri) contoh :&lt;br /&gt;
   - SPP mahasiswa BPPS 1 semester 5.950.000&lt;br /&gt;
   - SPP mahasiswa non-BPPS 1 semester 5.000.000&lt;br /&gt;
2. Banyaknya Pungutan diluar tanggungan BPPS&lt;br /&gt;
3. Masih terdapatnya beberapa dosen yang semena-mena dalam pemberian&lt;br /&gt;
   nilai akhir yang menyebabkan mahasiswa tersebut di drop Out (DO).&lt;br /&gt;
4. apabila status mahasiswa Drop Out (DO) dituntut/dipaksa untuk &lt;br /&gt;
   menandatangani surat pernyataan pengunduran diri.yang tentunya &lt;br /&gt;
   sangat menentukan dalam pemberian sanksi untuk mengembalikan &lt;br /&gt;
   dana penerima BPPS. soalnya yang saya tau apabila di dorp out &lt;br /&gt;
   penerima BPPS tidak berkewajiban untuk mengembalikan dana yg&lt;br /&gt;
   diterimanya. namun berbeda apabila mhs tsb mengundurkan diri, maka&lt;br /&gt;
   mhs tsb wajib mengembalikan dana BPPS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
harapan saya dari pihak DIKTI lebih mencermati dari berbagai permasalahan seperti di atas dan tidak membebani mahasiswa dengan segala sanksi yang memberatkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa yang bapak alami sering terjadi di Universitas Negeri Lainnya.<br />
walaupun letak permasalahannya berbeda. saya juga mengalami permasalahan menyangkut studi saya di IPB.walaupun saat ini status saya masih aktif namun terancam. ketidak adilan tersebut menyangkut :<br />
1. Besar SPP untuk mahasiswa BPPS dan Non BPPS sangat berbeda jauh.<br />
   besarnya SPP mahasiswa penerima BPPS lebih besar dari pada  <br />
   mahasiswa<br />
   non &#8211; BPPS (Mahasiswa Sponsor sendiri) contoh :<br />
   &#8211; SPP mahasiswa BPPS 1 semester 5.950.000<br />
   &#8211; SPP mahasiswa non-BPPS 1 semester 5.000.000<br />
2. Banyaknya Pungutan diluar tanggungan BPPS<br />
3. Masih terdapatnya beberapa dosen yang semena-mena dalam pemberian<br />
   nilai akhir yang menyebabkan mahasiswa tersebut di drop Out (DO).<br />
4. apabila status mahasiswa Drop Out (DO) dituntut/dipaksa untuk <br />
   menandatangani surat pernyataan pengunduran diri.yang tentunya <br />
   sangat menentukan dalam pemberian sanksi untuk mengembalikan <br />
   dana penerima BPPS. soalnya yang saya tau apabila di dorp out <br />
   penerima BPPS tidak berkewajiban untuk mengembalikan dana yg<br />
   diterimanya. namun berbeda apabila mhs tsb mengundurkan diri, maka<br />
   mhs tsb wajib mengembalikan dana BPPS.</p>
<p>harapan saya dari pihak DIKTI lebih mencermati dari berbagai permasalahan seperti di atas dan tidak membebani mahasiswa dengan segala sanksi yang memberatkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN by Pertampilan S. Brahmana</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/21/negara-kebangsaan-disodok-syariat-tuhan/comment-page-1/#comment-6</link>
		<dc:creator>Pertampilan S. Brahmana</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 10:21:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-6</guid>
		<description>KOMENTAR UNTUK BUNG FATIH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi yang mereka bukan beragama Islam, mereka tidak pernah membeda-bedakan Islam itu. Islam ya Islam. Mau mazhab apa mereka, mazhab Hambali, mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, orang yang bukan Islam tidak mempersoalkannya.  Presiden dan Wakil Presiden Indonesia selama ini semuanya orang Indonesia beragama Islam, soal mazhab apa mereka, soal apakah dia mencerminkan syariat Islam itu urusan interen Islam itu sendiri menilai dan membeda-bedakannya. Yang bukan Islam hanya tahu, semua Presiden dan wakil Prsiden Indonesia itu selama ini agamanya Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan Bung Para kafir dzimmi, orang-orang non muslim, yang hidup dibawah khilafah terlindungi kehormatannya, tidak pernah dibatasi dalam melakukan aktifitas keagamaan ini hanya ada dalam tataran teori atau idealnya saja khususnya di Indonesia. Buktinya pembakaran gereja, pelarangan  beribadah, penyerangan terhadap Ahmadiyah, kasus Ahmad Moshaddeq (Al-Qiyadah) adalah contoh ketidakbenaran pernyataan di atas secara faktual.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahmadiyah, kasus Ahmad Moshaddeq (Al-Qiyadah), kalau mereka menyimpang dari Islam, biar saja kelak Tuhan Yang Maha Esa yang menghakiminya, bukan manusia yang menghakiminya. Kecuali mereka melakukan kriminal, serahkan kepada polisi yang menanganinya. Seharusnya ’kan begitu. Kalau mereka tidak sejalan dengan yang lain, adakan dialog terus-terusan agar mereka tobat mau mengikuti yang kita anggap benar tersebut, bukan menggebuknya dengan menggunakan tangan negara, atau lainnya, seperti aparat keamanan tanpa surat keputusan penunjukkan. Masalah Ahmadiyah,  kasus Ahmad Moshaddeq (Al-Qiyadah)  ini memang urusan penganut Islam itu sendiri, tetapi tetap merasa aneh, kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa itu direduksi menjadi tidak berdaya (berkuasa) dalam kasus ini. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa tidak berkehendak kepada mereka-mereka tersebut di atas, karena dianggap sesat, sekali pencet saja oleh Tuhan Yang Maha Esa mereka sudah habis. Manusia memuji-muji Tuhan sebagai Yang Maha Ada, Maha Tahu dan Maha Kuasa, tapi mengacukan adanya beliau dalam dirinya sendiri!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap anda tidak menarik contoh kasus ini ke luar Indonesia. Kita bicara faktualnya di Indonesia saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ada yang salah dengan aktornya jangan langsung menyalahkan naskahnya, lihat dahulu, apakah naskah tersebut mengajarkan hal yang diperbuat oleh aktor atau tidak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aktor salah bisa jadi karena doktrinnya benar (fakta) tetapi tidak benar dalam realitas atau tidak nyambung dengan realitas yang ada (tidak faktual). Doktrin (fakta)nya benar berdasarkan tafsir mereka. Kalau berdasarkan tafsir ada yang diabaikan, karena tidak sesuai dengan kepentingan yang disembunyikan,  ini namanya beroposisi biner. Maka pertanyaan  kini, siapakah sebenarnya yang paling benar di dunia ini menurut Tuhan pemilik, pencipta bumi beserta isinya?  Kalau ada pihak yang mengatakan “kamilah yang paling benar” itu namanya ngawur. Hingga hari ini belum ditemukakan bukti material dari Tuhan  yang menunjukkan bahwa Si A yang benar,  si B yang ngawur, atau sebaliknya si B yang benar dan sah sebagai wakil Tuhan di bumi beserta isinya ini,  dan si A yang ngawur. Yang ada saat ini adalah tafsir-tafsir sepihak untuk kepentingan sepihak dengan  tujuan sepihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama itu agama apapun, eksistensinya beroposisi binner, faktual. Kalau ada sisi negatif tentu ada sisi positipnya, demikian sebaliknya, kalau ada sisi positipnya ada sisi negatifnya.  Fakta, ini tidak mungkin disembunyikan, ini faktual. Bila ada yang mencoba menyembunyikannya sama seperti burung unta yang menyembunyikan kepalanya, tetapi punggungnya tetap kelihatan. Sekarang bergantung kepentingan siapa mereka menafsirkan sisi positip atau negatif tersebut (sisi negatif positip ini bukan nilai, tetapi pembeda). Mereka yang menggunakan agamanya sebagai kenderaan politik, untuk meraih kekuasaan, mereka akan mengatakan agama yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka, negatif, yang benar, tafsir versi mereka. Mereka yang  lebih menghargai pluralis dalam hal kepercayaan akan mengatakan semua agama baik, bukan satu jalan ke Roma (positip). Tujuannya agar umat yang bukan  seagama dengan mereka, mau mendukung kepentingan kelompok mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Sai Baba seperti di bawah ini barangkali dapat sedikit membuka cakrawala pemikiran kita tentang Tuhan. Menurut Sai Baba prinsip ilahi yang ada dalam diri tiap orang bagaikan aliran listrik yang menyalakan bola-bola lampu .. yang terdiri dari berbagai warna dan kekuatan. Demikianlah pula Tuhan menerangi semua orang tanpa memperdulikan kepercayaan, warna kulit, suku ataupun negaranya. Aliran listrik menghidupkan dan menyalakan bola lampu; Yang ilahi menghidupi dan menggerakkan segalanya. Mereka yang melihat perbedaan, mereka yang diliputi kabut prasangka, yang mementingkan diri, benci ataupun mendendam adalah orang yang sesat dan keliru. Sebab kasih sayang memandang keseluruhan sebagai satu keluaga Ilahi (Sai Baba.1989:117-118.).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua agama mengajarkan satu dasar disiplin yaitu menyingkirkan pikiran dan sifat yang mementingkan diri, mengejar kesenangan tak berarti. Tiap agama mengajar manusia untuk mengisi dirinya dengan kemuliaan Tuhan dan mengusir kepalsuan yang tidak ada maknanya itu; melatih dalam cara melepaskan diri (dari duniawi), serta kemampuan untuk membedakan (yang baik dan yang buruk) mereka bertujuan tinggi dan mencapai kebebasan (liberation). Percayalah Bahwa Tiap Hati Digerakkan Oleh Satu Tuhan Dan Hanya Tuhan Yang Itu Juga; Bahwa Semua Nama, Dalam Segala Bahasa Dan Segala Bentuk, Ditujukan Pada Satu-Satunya Tuhan Yang Maha Esa. Cara Terbaik Untuk Memujanya Adalah Dengan Cara Kasih Sayang. Peliharalah Sikap Kesatuan Antara Sesama Dari Segala Agama, Semua Negara Dan Benua (Sai Baba. 1989:118).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia memuji-muji Tuhan sebagai Yang Maha Ada, maha Tahu dan Maha Kuasa, tapi mengacukan adanya beliau dalam dirinya sendiri! Banyak yang mencoba menerangkan sifat-sifat Tuhan, dan menyatakan bahwa Tuhan itu begini atau begitu, tapi itu semua hanyalah tafsiran belaka sesuai dengan latarbelakang pemahaman dan kesukaan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapakah yang dapat memastikan bahwa Tuhan itu begini atau begitu? Siapakah yang dapat membenarkan bahwa Tuhan bukanlah dalam bentuk ini atau dengan tanda-tanda begitu? Dari samudera yang demikian luas, orang hanya dapat mengambil air sebanyak ember yang dapat dibawanya ke pantai. Dan dari jumlah yang sedikit itu, ia hanya dapat memahami sedikit saja dari lautan yang demikian luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiap agama menerangkan Tuhan dalam garis yang ditetapkannya, lalu menyatakan telah memahamiNya. Bagaikan empat orang buta yang membicarakan seekor gajah sebagai tiang, kipas tali atau dinding, karena mereka masing-masing hanya dapat memegang salah satu anggota badan gajah itu sehingga  tidak dapat menerangkan keseluruhan binatang tersebut. Demikian pula halnya dengan agama yang hanya membicarakan sebagian tapi menyatakan bahwa pandangan mereka itu sempurna dan menyeluruh.  Mereka lupa bahwa Tuhan adalah seluruh Rupa dan seluruh Nama, seluruh sifat dan seluruh kekuataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, cukup menarik pandangan Sai Baba tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khusus untuk kisah syariat agama, syariat agama apapun, hukum adat apapun yang hidup berkembang di Indonesia, posisinya berada di ruang kelompok dan pribadi dari pengikutnya, bukan di ruang publik pengikutnya. Di ruang publik Indonesia adalah hukum negara, doktrin negara (Pancasila), bukan menyeret-nyeret doktrin agama menjadi doktrin publik (negara), terkecuali negara Indonesia berdasarkan ideologi agama tertentu, masalahnya menjadi lain. Jadi kita bicara bukan jelek atau baik, tetapi masalah ruang penggunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau anda ingin tahu kerelatifan agama yang anda anut, benturkan doktrin agama yang anda anut dengan fakta-faktual yang ada disekeliling anda, misalnya menerima seseorang yang tidak segama menjadi pemimpin penting di suatu wilayah yang mayoritas penduduknya bukan seagama dengan masyarakat yang pemimpinnya tersebut, pasti ada reaksi. Contoh kasus Letjen (Purn) Johny Lumintang yang hanya menjabat sebagai Pangkostrad (Panglima Komando Strategi Angkatan Darat)  17 jam. Menurut pengakuan Letjen (Purn) Johny Lumintang pengangkatannya tidak dilanjutkan karena dia beragama Kristen (Harian Komentar 2005).  Kasus lain adalah Calon Rektor Universitas Jember Dr. Ir. Tarcisius Sutikto, MSc., yang bukan beragama Islam, ditolak beramai-ramai oleh para Profesor, para Doktor di Universitas Jember tersebut (Tempo, 2003). Kedua masalah di atas, sama sekali bukan urusan agama.  Bila tadi kostrad itu lembaga agama X, dan Johny Lumintang agama B, Universitas Jember adalah lembaga keagamaan Y, Dr. Ir. Tarcisius Sutikto, MSc., agama Z, masih dapat diterima penolakan  atas mereka atau di demo habis-habisan atas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau anda menyarankan saya  untuk mempelajari dengan adil doktrin-doktrin agama, terimakasih saran anda, saya juga menyarankan kepada anda “benturkan”  dulu doktrin agama yang anda tahu dengan fakta-faktual yang ada di sekeliling anda. Salam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERTAMPILAN S. BRAHMANA (20/04/2008)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KOMENTAR UNTUK BUNG FATIH</p>
<p>
Bagi yang mereka bukan beragama Islam, mereka tidak pernah membeda-bedakan Islam itu. Islam ya Islam. Mau mazhab apa mereka, mazhab Hambali, mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, orang yang bukan Islam tidak mempersoalkannya.  Presiden dan Wakil Presiden Indonesia selama ini semuanya orang Indonesia beragama Islam, soal mazhab apa mereka, soal apakah dia mencerminkan syariat Islam itu urusan interen Islam itu sendiri menilai dan membeda-bedakannya. Yang bukan Islam hanya tahu, semua Presiden dan wakil Prsiden Indonesia itu selama ini agamanya Islam.</p>
<p>Pernyataan Bung Para kafir dzimmi, orang-orang non muslim, yang hidup dibawah khilafah terlindungi kehormatannya, tidak pernah dibatasi dalam melakukan aktifitas keagamaan ini hanya ada dalam tataran teori atau idealnya saja khususnya di Indonesia. Buktinya pembakaran gereja, pelarangan  beribadah, penyerangan terhadap Ahmadiyah, kasus Ahmad Moshaddeq (Al-Qiyadah) adalah contoh ketidakbenaran pernyataan di atas secara faktual.  </p>
<p>Ahmadiyah, kasus Ahmad Moshaddeq (Al-Qiyadah), kalau mereka menyimpang dari Islam, biar saja kelak Tuhan Yang Maha Esa yang menghakiminya, bukan manusia yang menghakiminya. Kecuali mereka melakukan kriminal, serahkan kepada polisi yang menanganinya. Seharusnya ’kan begitu. Kalau mereka tidak sejalan dengan yang lain, adakan dialog terus-terusan agar mereka tobat mau mengikuti yang kita anggap benar tersebut, bukan menggebuknya dengan menggunakan tangan negara, atau lainnya, seperti aparat keamanan tanpa surat keputusan penunjukkan. Masalah Ahmadiyah,  kasus Ahmad Moshaddeq (Al-Qiyadah)  ini memang urusan penganut Islam itu sendiri, tetapi tetap merasa aneh, kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa itu direduksi menjadi tidak berdaya (berkuasa) dalam kasus ini. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa tidak berkehendak kepada mereka-mereka tersebut di atas, karena dianggap sesat, sekali pencet saja oleh Tuhan Yang Maha Esa mereka sudah habis. Manusia memuji-muji Tuhan sebagai Yang Maha Ada, Maha Tahu dan Maha Kuasa, tapi mengacukan adanya beliau dalam dirinya sendiri!</p>
<p>Saya harap anda tidak menarik contoh kasus ini ke luar Indonesia. Kita bicara faktualnya di Indonesia saja.</p>
<p>Kalau ada yang salah dengan aktornya jangan langsung menyalahkan naskahnya, lihat dahulu, apakah naskah tersebut mengajarkan hal yang diperbuat oleh aktor atau tidak. </p>
<p>Aktor salah bisa jadi karena doktrinnya benar (fakta) tetapi tidak benar dalam realitas atau tidak nyambung dengan realitas yang ada (tidak faktual). Doktrin (fakta)nya benar berdasarkan tafsir mereka. Kalau berdasarkan tafsir ada yang diabaikan, karena tidak sesuai dengan kepentingan yang disembunyikan,  ini namanya beroposisi biner. Maka pertanyaan  kini, siapakah sebenarnya yang paling benar di dunia ini menurut Tuhan pemilik, pencipta bumi beserta isinya?  Kalau ada pihak yang mengatakan “kamilah yang paling benar” itu namanya ngawur. Hingga hari ini belum ditemukakan bukti material dari Tuhan  yang menunjukkan bahwa Si A yang benar,  si B yang ngawur, atau sebaliknya si B yang benar dan sah sebagai wakil Tuhan di bumi beserta isinya ini,  dan si A yang ngawur. Yang ada saat ini adalah tafsir-tafsir sepihak untuk kepentingan sepihak dengan  tujuan sepihak.</p>
<p>Agama itu agama apapun, eksistensinya beroposisi binner, faktual. Kalau ada sisi negatif tentu ada sisi positipnya, demikian sebaliknya, kalau ada sisi positipnya ada sisi negatifnya.  Fakta, ini tidak mungkin disembunyikan, ini faktual. Bila ada yang mencoba menyembunyikannya sama seperti burung unta yang menyembunyikan kepalanya, tetapi punggungnya tetap kelihatan. Sekarang bergantung kepentingan siapa mereka menafsirkan sisi positip atau negatif tersebut (sisi negatif positip ini bukan nilai, tetapi pembeda). Mereka yang menggunakan agamanya sebagai kenderaan politik, untuk meraih kekuasaan, mereka akan mengatakan agama yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka, negatif, yang benar, tafsir versi mereka. Mereka yang  lebih menghargai pluralis dalam hal kepercayaan akan mengatakan semua agama baik, bukan satu jalan ke Roma (positip). Tujuannya agar umat yang bukan  seagama dengan mereka, mau mendukung kepentingan kelompok mereka.</p>
<p>Pandangan Sai Baba seperti di bawah ini barangkali dapat sedikit membuka cakrawala pemikiran kita tentang Tuhan. Menurut Sai Baba prinsip ilahi yang ada dalam diri tiap orang bagaikan aliran listrik yang menyalakan bola-bola lampu .. yang terdiri dari berbagai warna dan kekuatan. Demikianlah pula Tuhan menerangi semua orang tanpa memperdulikan kepercayaan, warna kulit, suku ataupun negaranya. Aliran listrik menghidupkan dan menyalakan bola lampu; Yang ilahi menghidupi dan menggerakkan segalanya. Mereka yang melihat perbedaan, mereka yang diliputi kabut prasangka, yang mementingkan diri, benci ataupun mendendam adalah orang yang sesat dan keliru. Sebab kasih sayang memandang keseluruhan sebagai satu keluaga Ilahi (Sai Baba.1989:117-118.).</p>
<p>Semua agama mengajarkan satu dasar disiplin yaitu menyingkirkan pikiran dan sifat yang mementingkan diri, mengejar kesenangan tak berarti. Tiap agama mengajar manusia untuk mengisi dirinya dengan kemuliaan Tuhan dan mengusir kepalsuan yang tidak ada maknanya itu; melatih dalam cara melepaskan diri (dari duniawi), serta kemampuan untuk membedakan (yang baik dan yang buruk) mereka bertujuan tinggi dan mencapai kebebasan (liberation). Percayalah Bahwa Tiap Hati Digerakkan Oleh Satu Tuhan Dan Hanya Tuhan Yang Itu Juga; Bahwa Semua Nama, Dalam Segala Bahasa Dan Segala Bentuk, Ditujukan Pada Satu-Satunya Tuhan Yang Maha Esa. Cara Terbaik Untuk Memujanya Adalah Dengan Cara Kasih Sayang. Peliharalah Sikap Kesatuan Antara Sesama Dari Segala Agama, Semua Negara Dan Benua (Sai Baba. 1989:118).</p>
<p>Manusia memuji-muji Tuhan sebagai Yang Maha Ada, maha Tahu dan Maha Kuasa, tapi mengacukan adanya beliau dalam dirinya sendiri! Banyak yang mencoba menerangkan sifat-sifat Tuhan, dan menyatakan bahwa Tuhan itu begini atau begitu, tapi itu semua hanyalah tafsiran belaka sesuai dengan latarbelakang pemahaman dan kesukaan mereka.</p>
<p>Siapakah yang dapat memastikan bahwa Tuhan itu begini atau begitu? Siapakah yang dapat membenarkan bahwa Tuhan bukanlah dalam bentuk ini atau dengan tanda-tanda begitu? Dari samudera yang demikian luas, orang hanya dapat mengambil air sebanyak ember yang dapat dibawanya ke pantai. Dan dari jumlah yang sedikit itu, ia hanya dapat memahami sedikit saja dari lautan yang demikian luas.</p>
<p>Tiap agama menerangkan Tuhan dalam garis yang ditetapkannya, lalu menyatakan telah memahamiNya. Bagaikan empat orang buta yang membicarakan seekor gajah sebagai tiang, kipas tali atau dinding, karena mereka masing-masing hanya dapat memegang salah satu anggota badan gajah itu sehingga  tidak dapat menerangkan keseluruhan binatang tersebut. Demikian pula halnya dengan agama yang hanya membicarakan sebagian tapi menyatakan bahwa pandangan mereka itu sempurna dan menyeluruh.  Mereka lupa bahwa Tuhan adalah seluruh Rupa dan seluruh Nama, seluruh sifat dan seluruh kekuataan.</p>
<p>Ya, cukup menarik pandangan Sai Baba tersebut.</p>
<p>Khusus untuk kisah syariat agama, syariat agama apapun, hukum adat apapun yang hidup berkembang di Indonesia, posisinya berada di ruang kelompok dan pribadi dari pengikutnya, bukan di ruang publik pengikutnya. Di ruang publik Indonesia adalah hukum negara, doktrin negara (Pancasila), bukan menyeret-nyeret doktrin agama menjadi doktrin publik (negara), terkecuali negara Indonesia berdasarkan ideologi agama tertentu, masalahnya menjadi lain. Jadi kita bicara bukan jelek atau baik, tetapi masalah ruang penggunaannya.</p>
<p>Kalau anda ingin tahu kerelatifan agama yang anda anut, benturkan doktrin agama yang anda anut dengan fakta-faktual yang ada disekeliling anda, misalnya menerima seseorang yang tidak segama menjadi pemimpin penting di suatu wilayah yang mayoritas penduduknya bukan seagama dengan masyarakat yang pemimpinnya tersebut, pasti ada reaksi. Contoh kasus Letjen (Purn) Johny Lumintang yang hanya menjabat sebagai Pangkostrad (Panglima Komando Strategi Angkatan Darat)  17 jam. Menurut pengakuan Letjen (Purn) Johny Lumintang pengangkatannya tidak dilanjutkan karena dia beragama Kristen (Harian Komentar 2005).  Kasus lain adalah Calon Rektor Universitas Jember Dr. Ir. Tarcisius Sutikto, MSc., yang bukan beragama Islam, ditolak beramai-ramai oleh para Profesor, para Doktor di Universitas Jember tersebut (Tempo, 2003). Kedua masalah di atas, sama sekali bukan urusan agama.  Bila tadi kostrad itu lembaga agama X, dan Johny Lumintang agama B, Universitas Jember adalah lembaga keagamaan Y, Dr. Ir. Tarcisius Sutikto, MSc., agama Z, masih dapat diterima penolakan  atas mereka atau di demo habis-habisan atas mereka.</p>
<p>Kalau anda menyarankan saya  untuk mempelajari dengan adil doktrin-doktrin agama, terimakasih saran anda, saya juga menyarankan kepada anda “benturkan”  dulu doktrin agama yang anda tahu dengan fakta-faktual yang ada di sekeliling anda. Salam.</p>
<p>
PERTAMPILAN S. BRAHMANA (20/04/2008)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN by Fatih</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/21/negara-kebangsaan-disodok-syariat-tuhan/comment-page-1/#comment-5</link>
		<dc:creator>Fatih</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 06:34:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-5</guid>
		<description>Sorry, ketik emailnya salah, yang benar teukufatihalcatraz@yahoo.com, kalau ada yang mau langsung komentar, silahkan, monggo.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sorry, ketik emailnya salah, yang benar <a href="mailto:teukufatihalcatraz@yahoo.com">teukufatihalcatraz@yahoo.com</a>, kalau ada yang mau langsung komentar, silahkan, monggo.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN by Fatih</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/21/negara-kebangsaan-disodok-syariat-tuhan/comment-page-1/#comment-4</link>
		<dc:creator>Fatih</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 06:34:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-4</guid>
		<description>Saran untuk bapak Brahmana, pelajari lebih dalam tentang syariat Islam, karena para presiden yang bapak sebutkan satu persatu tidak mencerminkan syariat Islam, karena jelas-jelas mereka tidak mengaplikasikan syariat Islam. Para kafir dzimmi, orang-orang non muslim, yang hidup dibawah khilafah terlindungi kehormatannya, tidak pernah dibatasi dalam melakukan aktifitas keagamaan. Kalau ada yang salah dengan aktornya jangan langsung menyalahkan naskahnya, lihat dahulu, apakah naskah tersebut mengajarkan hal yang diperbuat oleh aktor atau tidak. Kalau ente mengambil kesimpulan suatu doktrin dari para pelakunya, berarti ente berpandangan semua agama jelek. Kalau ente ingin tahu mana agama yang benar, pelajari dengan adil doktrin-doktrinnya. OK? Fatih, Sydney, Australia. teukufatihalcatraz@yahoo.com@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saran untuk bapak Brahmana, pelajari lebih dalam tentang syariat Islam, karena para presiden yang bapak sebutkan satu persatu tidak mencerminkan syariat Islam, karena jelas-jelas mereka tidak mengaplikasikan syariat Islam. Para kafir dzimmi, orang-orang non muslim, yang hidup dibawah khilafah terlindungi kehormatannya, tidak pernah dibatasi dalam melakukan aktifitas keagamaan. Kalau ada yang salah dengan aktornya jangan langsung menyalahkan naskahnya, lihat dahulu, apakah naskah tersebut mengajarkan hal yang diperbuat oleh aktor atau tidak. Kalau ente mengambil kesimpulan suatu doktrin dari para pelakunya, berarti ente berpandangan semua agama jelek. Kalau ente ingin tahu mana agama yang benar, pelajari dengan adil doktrin-doktrinnya. OK? Fatih, Sydney, Australia. <a href="mailto:teukufatihalcatraz@yahoo.com">teukufatihalcatraz@yahoo.com</a>@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN by Fatih</title>
		<link>http://brahmana-medan.blog.com/2006/11/21/negara-kebangsaan-disodok-syariat-tuhan/comment-page-1/#comment-3</link>
		<dc:creator>Fatih</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 06:32:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-3</guid>
		<description>Saran untuk bapak Brahmana, pelajari lebih dalam tentang syariat Islam, karena para presiden yang bapak sebutkan satu persatu tidak mencerminkan syariat Islam, karena jelas-jelas mereka tidak mengaplikasikan syariat Islam. Para kafir dzimmi, orang-orang non muslim, yang hidup dibawah khilafah terlindungi kehormatannya, tidak pernah dibatasi dalam melakukan aktifitas keagamaan. Kalau ada yang salah dengan aktornya jangan langsung menyalahkan naskahnya, lihat dahulu, apakah naskah tersebut mengajarkan hal yang diperbuat oleh aktor atau tidak. Kalau ente mengambil kesimpulan suatu doktrin dari para pelakunya, berarti ente berpandangan semua agama jelek. Kalau ente ingin tahu mana agama yang benar, pelajari dengan adil doktrin-doktrinnya. OK? Fatih, Sydney, Australia. royalcatraz@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saran untuk bapak Brahmana, pelajari lebih dalam tentang syariat Islam, karena para presiden yang bapak sebutkan satu persatu tidak mencerminkan syariat Islam, karena jelas-jelas mereka tidak mengaplikasikan syariat Islam. Para kafir dzimmi, orang-orang non muslim, yang hidup dibawah khilafah terlindungi kehormatannya, tidak pernah dibatasi dalam melakukan aktifitas keagamaan. Kalau ada yang salah dengan aktornya jangan langsung menyalahkan naskahnya, lihat dahulu, apakah naskah tersebut mengajarkan hal yang diperbuat oleh aktor atau tidak. Kalau ente mengambil kesimpulan suatu doktrin dari para pelakunya, berarti ente berpandangan semua agama jelek. Kalau ente ingin tahu mana agama yang benar, pelajari dengan adil doktrin-doktrinnya. OK? Fatih, Sydney, Australia. <a href="mailto:royalcatraz@yahoo.com">royalcatraz@yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

