Saturday, June 27, 2009

DOSEN NGAKALI DOSEN

DOSEN NGAKALI DOSEN

Oleh Pertampilan S. Brahmana

 

Pernahkah anda membaca brosur-brosur pendidikan lanjutan yang diterbitkan oleh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia? Mereka yang mengikuti pendidikan lanjutan di dalam negeri pasti pernah membacanya, karena dalam brosur tersebut, diinformasikan syarat-syarat untuk mengikuti pendidikan lanjutan di program studi penerbit brosur tersebut.

 

Apa visi misi, apa obyektifitas program studi tersebut jelas tertulis di sana, juga dengan nama-nama staf pengajarnya, mungkin 95 persen bergelar Dr atau Prof. Dr., mereka yang tamatan luar negeri (bukan swasta) gelar Dr-nya ditulis PhD. 5 persen lagi mereka yang berjenjang S2. Kalau S1 jangan diharap namanya tertulis dibrosur tersebut, karena dari segi jenjang pendidikan memang mereka tidak layak ikut. Tetapi dalam satu kasus, saya pernah melihat seorang yang berpendidikan Prof S1, menjadi pembimbing pertama  bagi seorang mahasiswa S2. Bagaimana dia mau membimbing S2, pengalaman menyusun tesis aja kan punya. tapi begitulah.

 

Maka nama-nama staf pengajarnya pun dirancang antara lain sebagai berikut:

 

Prof. Dr.  Ahli Kali-Kali, S.H, MSc, MA

Universitas  Sono

Prof Ir. Ahli Kurang-Kurang, PhD, MA

Univesritas Sono

Prof. Dr. Drs. Terbodoh Bagi-Bagi, MM.MM.

Universitas Sini

Prof Dr. Ir. Ahli Tambah-Tambah, Mphek. Mthol, Mphis.

Universitas Seberang Kali

Dr. Plus Minus, SH, SE, MH

Universitas Tetangga

Dst

 

 

Sungguh keren. Sangat kredibel. Para dosen yang akan mentransfer ilmunya kepada para mahasiswa adalah mereka yang sudah berjenjang pendidikan S3, dan bergelar Prof. Gelar Prof ini seolah-olah gelar yang diperoleh dari jenjang pendidikan yang tertinggi, di atas S3. Tepuk dada 3 x.

 

Begitu diterima dan mulai mengikuti perkuliahan bahkan hingga pendidikan selesai, ada dosen yang tersebut dalam brosur tidak pernah terlihat batang hidungnya. Ternyata nama mereka hanya sebagai asesoris saja, tidak fungsional. Dosen yang masuk, memberi kuliah memang benar-benar ahli, mulai dari ahli mengurang-ngurangi waktu, ahli terbodoh di dalam materi yang seharusnya dia kuliahkan, ahli plus minus (materi kuliah yang pas-pasan), dan ahli berhitung soal honor, absensi perkuliahan disuruh ditandatangi para mahasiswa, maka kuliahnya hanya mengambil absen, habis itu bubaran, bahasa kerennya belajar di perpustakaan,  walau kenyataannya ngobrol dari A sampai Z di luar kelas, dan ternyata absen ini ditukar oleh sang dosen dengan honor pada hari H-nya.

 

Di sisi lain, di luar gelanggang perkuliahan, berbicara dengan dosen yang hanya berpendidikan S1, jauh lebih familiar, lebih jelas penjelasannya atas materi perkuliahan di dalam kelas yang dosennya bergelar Prof. DR. Tapi tampaknya jarang dosen seperti ini, dijadikan dosen tamu karena pendidikannya hanya S1.

 

xxxx

 

Simpati baik dalam bentuk dukungan moral, maupun simpati dalam bentuk penyesalan atas keputusan saya tidak mau kembali lagi melanjutkan pendidikan S3, cukup banyak saya terima, terutama teman-teman yang berbeda sudut pandangnya dengan keputusan yang saya ambil. Kepada mereka selalu saja saya ucapkan terimakasih atas dukungan morilnya, walaupun itu penyesalan yang diungkapkannya. Saya hanya menjawab secara singkat, kalau ijasah S3 tersebut menjadi milik saya, apapun tindakan saya, tetapnya akan menjadi milik saya, namun kalau bukan milik saya, apapun upaya yang saya lakukan semua berakhir dengan sia-sia, ibarat dengan menggunakan istilah rezeki, gelar DOKTOR tersebut mungkin bukan rezeki saya,

 

xxxx

 

Walaupun saya bukan dosen yang dikategorikan pintar ketika memberi kuliah di depan mahasiswa saya, bukan juga dosen yang dikategorikan menguasai bidang saya, tetapi setiap saya berdiri di depan mahasiswa saya, materi kuliah antara 60-75 % dari setiap tatap muka, selalu sesuai dengan judul dan materi kuliah yang saya berikan. Materi itu selalu saya sediakan dalam bentuk hand out, dan itu saya berikan seminggu sebelum tanggal perkuliahan, dan kalau jadwal kuliah saya kebetulan tepat pada hari libur, maka dua minggu sebelum perkuliahan di mulai, hand out itu sudah berada di tangan mahasiswa. Kalau jumlah mahasiswa yang mengambil matakuliah yang saya menjadi penanggungjawabnya hanya 5 orang, hand out itu saya fotokopy sendiri dan saya berikan kepada mereka,  namun bila sudah lebih dari 5 orang, hand out itu saya suruh mereka memfotokopynya, satu orang biasanya mendapat hand out gratis, karena naskah hand out yang saya berikan  untuk difotokopy tidak saya minta kembali, kecuali si mahasiswa mengembalikannya. Hand out itu saya suruh baca, apa yang tidak jelas akan didiskusikan dalam perkuliahan berikutnya.

 

Tiba pada perkuliahan berikutnya saya tinggal istilah orang medan “ngecap” di depan kelas dengan topik yang sudah diberikan sebelumnya. Beginilah cara saya memberi perkuliahan. Biasanya pada awal-awal perkuliahan saya jelaskan kepada mahasiswa yang akan mengikuti perkuliahan saya, “saya tidak pintar menjelaskan materi yang saya berikan, agar terjadi transfer ilmu, sebaiknya anda mengkritisi materi yang saya berikan. Dari diskusi yang terjadi, diharapkan terjadi transfer ilmu kepada anda” papar saya pada awal perkuliahan, Bila kebetulan ada pertanyaan mahasiswa yang tidak dapat saya jawab, saya berjanji minggu berikutnya akan saya jelaskan, tetapi setelah selesai saya menjelaskan topik yang saya berikan, janji saya.

 

Sisanya. Sebelum saya melanjutkan pendidikan S2, saya menceritakan strategi saya dalam menyusun, mulai skripsi (ketika S1). Lalu setelah saya menyelesaikan pendidikan S2 saya menceritakan pengalaman saya menyusun skripsi ketika S1, dan  tesis (ketika S2). Kemudian setelah saya mendapat pendidikan S3 (tidak tamat), saya menceritakan pengalaman saya menyusun skripsi ketika S1, dan  tesis (ketika S2). dan disertasi (S3 walau tidak selesai).

 

Saya ceritakan ketika saya masih S1  dua hari setelah proposal saya disetujui, pada hari ketiga sudah saya berikan draf skripsi kepada pembimbing saya. Artinya draft skripsi selesai ditulis bareng dengan proposal.  Mengapa bisa demikian? Karena sebelum dibenarkan mengajukan proposal, saya sudah memikirkan apa yang akan saya tulis, saya mencari judul-judul skripsi yang belum ditulis atau bahasa mahasiswa lain di lembaga saya menuntut ilmu. Diam-diam saya susun. Maka ketika sudah diijinkan mengajukan proposal skripsi, langsung saya ajukan. Setelah bimbingan beberapa kali, hari-hari berikutnya saya serahkan draft skripsi saya kepada dosen pembimbing saya. Dia sedikit kaget memang, tetapi tetap mengapresiasi  dengan baik apa yang saya lakukan.

 

Demikian juga ketika S2, belum lagi dinyatakan diterima menjadi mahasiswa S2, bahan-bahan untuk tesisnya sudah mulai diburu. Begitu diterima S2, sambil kuliah berjalan, tesis dan proposal dikerjai secara bersamaan. Begitu selesai ujian proposal, draf tesispun usai, tinggal sentuhan-sentuhan akhir untuk didiskusikan dengan pembimbing. Selanjutnya tinggal santai, menikmati pulau Dewata. Begitu juga dengan S3,  belum lagi dilamar S3nya, data-data untuk disertasinya sudah mulai dikumpul, sekaligus dikerjakan draf proposalnya. Begitu diterima, mulai lagi dicari lagi data-datanya, lalu dikerjakan secara bertahap  bagian perbagian, sekaligus dengan proposalnya. Maka ketika ujian proposal belum dimulai, disertasi sudah selesai dalam bentuk draf.

 

Melalui penceritaan seperti ini, saya bertujuan untuk merangsang, mengajak mahasiswa saya mau membuat perencanaan bagi masa studinya secara tepat waktu. Kalau bisa diselesaikan  tiga setengah tahun, mengapa harus empat tahun. Beginilah cara  saya memacu para mahasiswa yang kebetulan mengikuti perkuliahan saya, agar mereka menjadi bersemangat untuk segera menyelesaikan studinya. Tapi memang sulit juga menganjurkan yang demikian di era materialis hedonisme ini. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

 

Kemudian itu, nilai terbaik selalu saya berikan kepada mahasiswa yang kreatif, Maksudnya mahasiswa yang menulis di media massa cetak. Beginilah cara saya mentransfer ilmu kepada mahasiswa yang kebetulan mengikuti perkuliahan saya. Mungkin sayalah salah satu dosen di tempat kerja saya yang mau menolak membimbing skripsi mahasiswa, karena faktor-faktor tertentu. Penolakan ini bukan bertujuan untuk mempersulit si mahasiswa tamat, tetapi agar si mahasiswa cepat tamat bila dibimbing oleh dosen lain.

 

xxx

 

Ketika saya mulai mengikuti pendidikan pasca lanjutan,  pada awal perkuliahan saya bingung. Tahap-tahap yang biasa saya lakukan, sama sekali tidak fungsional. Saya berpikir, saya  yang ngawur, atau sistem yang tidak benar. Ada  dosen memberi materi perkuliahan “ngawur”. Objektifitas materikuliah tidak nyambung dengan topik perkuliahan, tetapi tetap pede (percaya diri) berdiri di depan kelas, yang peserta kuliah 80-90% adalah para dosen. Semakin diplintir ngawur materi perkuliahan oleh si mahasiswa, semakin semangat dosennya berdiri di depan kelas, kalau sudah begini waktu perkuliahan pun dia lupa ketika waktu untuknya sudah usai. Malah mengaku hebat lagi, dengan memojokkan rekan sekoleganya yang sama-sama menyandang gelar Prof Dr. Aneh.

 

Padahal di belakang kisah di atas, banyak mahasiswa, begitu selesai perkuliahan ngomel, “dapat apa hari ini” maksudnya tidak dapat ilmu apa-apa dari dosen yang mengajarnya.

 

xxx

 

Anda masih ingat Institut Manajemen Global Indonesia, yang beralamat di jl. H.R Rasuna Said Jakarta Selatan dahulu, disuruh tutup karena dianggap menjual ijzasah, di perguruan tinggi resmipun  pada program-program studi tertentu juga ada yang berperilaku demikian.

 

Indikatornya adalah matakuliah diajarkan adalah matakuliah yang dosen-dosennya adalah bagian dari kelompok pimpinan program studi tersebut. Mereka menciptakan matakuliah untuk memberikan lapangan kerja kelompok mereka. Apakah matakuliah yang diadakan fungsional atau tidak itu soal lain. Apakah pengajarnya berkewenangan bidang keilmuannya, tidak menjadi soal. Indikator ini biasanya ditandai dengan dosen yang mengajar tidak fungsional Misalnya dalam program studi llmu Politik, matakuliah metode penelitian diberikan kepada dosen dari bidang ilmu bahasa. Hasilnya, … nyaplirkan (tidak nyambung) karena begitu tiba dengan kasus-kasus sosial politik dosen , pengajar metode penelitian yang berlatarbelakangkan ilmu bahasa bingung berabstraksi dengan data-data sosial politik.

 

Pertanyaannya mengapa demikian? Mungkin ini hanyalah sebuah hipotesa saya saja, karena KKN (Kolusi Koncoisme dan Nepotisme) sudah dibabat habis di era reformasi mei 1998, sebagai gantinya muncul NKK (KKN dibaca dari belakang). Apa itu NKK? NKK ini bukan Normalisasi Kehidupan Kampus yang digagas ketika Pak Daud Jusuf menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dahulu, tapi NKK menjadi Nolong Kaum Kerabat, Nolong Kawan-Kawan..   

 

Bedanya dengan  Institut Manajemen Global Indonesia dahulu,  Institut Manajemen Global Indonesia dan PT sejenisnya, dilihat secara mata terbuka, sementara di perguruan tinggi resmipun dilakukan secara mata tertutup.

 

Kembali kepada pengalaman S3 saya yang gagal karena biaya, saya sebagai konsumen jelas dapat menilai, mana yang patut dibayar mana yang tidak patut dibayar tambah.

 

Sekarang mungkin musimnya dosen ngakali  dosen.  Kalau sudah begini, ilmu itu pun seperti ilmu silat turunnya, kurang-kurang satu, ujung-ujungnya tebak sendiri arahnya.

 

MEDAN Januari 2009

 

 

TULISAN SEBELUMNYA

NO

JUDUL

THN/BLN/TGL

136

PILPRES SATU PUTARAN

2009-06-20

135

Suara Kebenaran Dari Alam Lain

2009-06-14

134

Ekonomi Kerakyatan (2)

2009-06-06

133

Ekonomi Kerakyatan (1)

2009-05-30

132

Ingat Mei 1998

2009-05-24

131

Mabok Presiden (4)

2009-05-17

130

MABOK PRESIDEN (3)

2009-05-10

129

CERITA TENTANG KEADILAN BERUJUNG KEBOHONGAN

2009-05-03

128

MABOK PRESIDEN (2)

2009-04-19

127

RAPAT TERTUTUP YANG TERANG DI TEMPAT YANG BISA GELAP PASCA PENCANTINGAN

2009-04-12

126

GOLPUT BERHYPERLINK NEGATIVISME?

2009-04-05

125

MABOK PRESIDEN (1)

2009-03-29

124

AGAMA DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN (2)

2009-03-22

123

AGAMA DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN (1)

2009-03-15

122

IKLAN TEH

2009-03-08

121

TUKANG STEMPEL MENGUMBAR JANJI:

AKAL-AKALAN PARA CALEG

2009-03-01

120

BALA DAN BULAN-BULANAN

2009-02-23

119

AWAL PERKEMBANGAN ESTETIKA DI INDONESIA

2009-02-16

118

KEINDAHAN DAN AGAMA

2009-02-08

117

EKSISTENSIALISME DAN KONFLIK

2009-02-01

116

MENGHAPUS KEMISKINAN: MUNGKINKAH?

2009-01-25

115

L A P A R

2009-01-18

114

BAHASA KARO DAN BAHASA BALI: SEBUAH PERBANDINGAN AWAL

2009-01-11

 

113

EVALUASI AKHIR TAHUN 2008

TERHADAP PENGAMAT-PENGAMAT

2009-01-04

 

112

JEJAK-JEJAK MASA LALU DARI SUMATERA BARAT

Dalam Foto

2008-12-28

 

111

LEMBAH NGARAI SI ANOK DILIHAT DARI LOKASI GOA JEPANG DI BUKIT TINGGI

TANGGAL 25 FEBRUARI 2008

Dalam Foto

2008-12-21

110

FOTO-FOTO DI SEKITAR JAM GADANG KOTA BUKIT TINGGI DI PAGI HARI TANGGAL 27 FEBRUARI 2008

Dalam Foto

2008-12-14

109

FOTO ISTANA PAGARUYUNG YANG TERSISA PASCA KEBAKARAN 27 FEBRUARI 2007 DI KABUPATEN TANAH DATAR, SUMATRA BARAT

Dalam Foto

2008-12-07

 

108

TERPERANGKAP DALAM FAKTA: ANALISIS TERHADAP KERANGKA PIKIR MEMBUNUH ATAS NAMA TUHAN

 

Tulisan ini menganalisis alur pemikiran orang-orang yang melakukan pembunuhan sesama manusia dengan mengatasnamakan Tuhan.

2008-11-30

107

ATAS NAMA KERESAHAN

2008-11-22

106

PERUBAHAN DAN CEK KOSONG

2008-11-16

105

PEMEKARAN WILAYAH BEBAN BERAT BAGI LINGKUNGAN (?)

2008-11-09

104

SEPENGGAL DOA DEMI KEDAMAIAN KARENA PORNOGRAFI

2008-11-02

103

BUSYET

2008-10-26

102

PEMELIHARAAN BAHASA ETNIS DAN OTONOMI DAERAH

2008-10-19

101

MENGAPA RUPANYA

2008-10-12

100

GAK NYAMBUNG TJOI!

2008-10-05

099

KEINDAHAN TERBARU

2008-09-28

098

TUHAN, MANUSIA DAN UANG

2008-09-21

097

LOMBA LEBIH BERBOHONG

2008-09-14

096

UNIVERSAL

2008-09-07

095

KURANG GIZI DAN LAPAR TERSEMBUNYI

2008-08-31

094

PILKADA-PEMILU

2008-08-24

093

SASTRA, SENI DAN ESTETIKA

2008-08-17

092

BERTUHAN SECARA FAKTA DAN BERTUHAN SECARA FAKTUAL

2008-08-10

091

MOLEKUL PINTAR

2008-08-04

090

PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR UJIAN TIDAK DIIJINKAN, DIKEMBALIKAN KE INSTANSI PENGIRIM (ASAL) JUGA TIDAK DILAKUKAN UPDATE

2008-07-28

089

SASTRA (KESUSASTRAAN) SEBAGAI PRODUK BUDAYA (KEBUDAYAAN)

2008-07-22

088

PUISI: HANYA NAMA, CEK KOSONG, TIDAK LEBIH! DAN AKUPUN AKU MASIH SEPERTI YANG DULU

2008-07-14

087

PENGAJARAN TENTANG KETUHANAN ATAU KENABIAN?

SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN PENDIDIKAN/PENGAJARAN AGAMA

2008-07-07

086

DI BALIK 1000 NYALA LILIN

2008-06-23

085

N Y A P L I R

2008-06-16

084

DARI MALAIKAT KE  DOA MOHON KEHANCURAN AGAMA : DEKONSTRUKSI ATAS PANDANGAN KEAGAMAAN DALAM SASTRA INDONESIA

2008-06-09

083

PUISI: TETAP TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH

2008-06-02

082

PUISI: MONYET PADA ISI BERITA TV

2008-05-26

081

SASTRA DAN PRAGMATISME

2008-05-19

080

PUISI: BERTOBATLAH

2008-05-12

079

FILSAFAT DAN SASTRA

2008-05-05

078

PUISI: DI DALAM SEBUAH KAWASAN

2008-04-28

077

PUISI: UNTUNG BUNTUNG

2008-04-21

076

PENYAKIT DAN MEMILIH UPAYA CARA PENYEMBUHANNYA (2)

2008-04-14

075

PENYAKIT DAN MEMILIH UPAYA CARA PENYEMBUHANNYA (1)

2008-04-07

074

PUISI: MELAYANI DENGAN HATI TULUS

2008-04-01

073

KESESATAN

2008-03-24

072

SASTRA SEBAGAI SEBUAH DISIPLIN ILMU

2008-03-17

071

PUISI: RUMAH TUA

2008-03-10

070

PUISI: SETANGKAI BUNGA PLASTIK

2008-03-03

069

PUISI: MEMBACA TERBALIK

2008-02-18

068

SASTRA DAN ESTETIKA (2): MEMAHAMI KEINDAHAN PUISI

2008-02-11

067

UNDANG-UNDANG ALIRAN SESAT ATAU UNDANG-UNDANG YANG  BERLIRAN SESAT?

2008-02-04

066

SASTRA DAN ESTETIKA (1): PENGERTIAN KEINDAHAN

2008-01-29

065

KEINDAHAN

2008-01-21

064

KEMISKINAN GAYA BARU

2008-01-15

063

SASTRA SIBER

2008-01-07

062

PEMEKARAN WILAYAH DAN ANCAMAN PEMANASAN GLOBAL

2007-12-24

061

SASTRA EKSIL

2007-12-17

060

KONDISI KERJA DALAM “LINGKUNGAN” SAUDARA SEBANGSA

2007-12-10

059

FOTO-FOTO SISA KEJAYAAN PADANG PENGEMBALAAN KERBAU KELUARGA SEMBIRING BRAHMANA LIMANG 1

 

FOTO-FOTO SISA KEJAYAAN PADANG PENGEMBALAAN KERBAU KELUARGA SEMBIRING BRAHMANA LIMANG 2

 

DI KABUPATEN KARO SUMATERA UTARA

2007-12-03

058

KEPADA MEREKA YANG TELAH TAHU JALAN KE SURGA

2007-11-26

057

SASTRA DAN POLITIK (2) PELARANGAN BUKU-BUKU SASTRA PADA MASA ORDE BARU (TRAGEDI SASTRA INDONESIA)

2007-11-19

056

PUISI : CERITA ORANG PINTAR

2007-11-12

055

SASTRA DAN POLITIK (1): ANUTAN ROHANI DAN KARYA SASTRA

2007-11-05

054

MEMAHAMI KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA DARI SISI  GAGASAN  DAN MATERIAL

2007-10-29

053

GEREJA DAN PEMBINAAN BAHASA (DI) INDONESIA

2007-10-22

052

SASTRA KONTEMPORER INDONESIA

2007-10-15

051

PUISI: GEMPA INDONESIA

2007-10-08

050

IRAMA GEDANG ITU BERNAMA STOLEN ASSET RECOVERY (StAR) INITIATIVE

2007-10-01

049

BENTUK DAN ALIRAN DALAM PUISI INDONESIA

2007-09-24

048

PUISI:  KETIK (SPASI) PEMBOHONG (SPASI) KAU

2007-09-17

047

SASTRAWAN INDONESIA DAN JAMANNYA

2007-09-10

046

PUISI: HANYA SATU KATA

2007-09-03

045

KESUSASTRAAN INDONESIA, KEBUDAYAAN DAN KAJIAN BUDAYA

2007-08-27

044

PUISI: TOPENG MONYET

2007-08-20

043

PUISI: HMM! NIKMATNYA BERBOHONG

2007-08-14

042

AGAMA DILECEHKAN: MENGAPA HARUS TERSINGGUNG?

2007-08-06

041

PUISI: AKU TIDAK MAU

2007-07-31

040

PUISI: CERITA KESEJAHTERAAN RAKYAT

2007-07-23

039

BILA SBY-JK GAGAL! LALU SIAPA YANG TIDAK GAGAL?

2007-07-18

038

PUISI: KKNK

2007-07-09

037

PUISI: INGATAN KEPADA SATU NAMA

2007-07-02

036

REFORMASI KUDA PUSING

2007-06-26

035

PUISI: MENANTI WALAU TIDAK PASTI

2007-06-18

034

PUISI: DI BALIK

2007-06-11

033

BUDAYA POLITIK DAN PELANGGARAN HAM

2007-06-06

032

PUISI : ACINTYA

2007-05-29

031

POLITIK UANG DALAM PILPRES-PILKADA DAN POLITIK UANG DALAM SMS BERHADIAH

2007-05-21

030

PUISI : BULAN MEI

2007-05-14

029

BERPINDAH AGAMA: MENGAPA DIPERSOALKAN?

2007-05-07

028

PUISI: SELEMBAR AMPLOP SURAT TERGELETAK DI TEPI JALAN BALAI KOTA MEDAN

2007-04-30

027

GADO-GADO DJAKARTA

2007-04-23

026

KOMUNISME! MENGAPA HARUS DITAKUTI: KASUS “PENGHADANGAN” PARTAI PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL (PAPERNAS)

2007-04-16

025

PUISI: KOTAKU PERAIH BERMACAM-MACAM

2007-04-09

024

KISAH “ORANG MEDAN” DAN GAYA MEDAN

2007-04-02

023

KONFLIK PEMINDAHAN IBUKOTA KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN: MENJADI IBUKOTA KABUPATEN, ADA PLUS MINUSNYA

2007-03-26

022

PUISI: PRODUK ITU …!

2007-03-20

021

PUISI: YOGYAKARTA 1989

2007-03-12

020

PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR: UJIAN TIDAK DIIJINKAN, DIKEMBALIKAN KE INSTANSI PENGIRIM (ASAL) JUGA TIDAK DILAKUKAN

2007-03-07

019

PUISI: KEPADA J (1)

2007-02-03

018

PUISI: BUDHA DI BOROBUDUR

2007-02-27

017

RIH PANJANG: PADANG PENGEMBALAAN KERBAU LIMANG TINGGAL KENANGAN

2007-02-19

016

TEMA-TEMA YANG MENGANDUNG OPOSISI BINER DALAM INJIL DAN AL QUR’AN

2007-01-15

015

KASUS PELANGGARAN HAM DI INDONESIA: PELAKSANAAN ANTARA  HAK DAN KEWAJIBAN TIDAK SEIRING SEJALAN ?

2006-12-11

014

“HANCURKAN ORDE BARU”

2006-12-04

013

MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO

2006-11-27

012

NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN
(KOMENTAR UNTUK BUNG FATIH 20/04/2008)

2006-11-21

011

PILKADA DAN PENCERAHAN

2006-11-13

010

ORDEBARU: MONOKULTURAL ATAU MULTIKULTURAL?

2006-11-06

009

PEMEKARAN WILAYAH: UNTUK KESEJAHTERAAN SIAPA?

2006-10-30

008

HAMA DALAM INDUSTRI PARIWISATA

2006-10-26

007

PERKAWINAN DALAM PANDANGAN BUDHA

2006-10-23

006

BUKAN HANYA TNI/POLRI, PNS AKTIF SEHARUSNYA JUGA TIDAK DIBERI HAK PILIH

2006-10-16

005

INDEPENDEN: NETRAL YANG AKAL-AKALAN

2006-10-16

004

TOTEM KLAN PADA MASYARAKAT KARO

2006-10-09

003

DALIKEN SI TELU DAN SOLUSI MASALAH SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO: KAJIAN SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL  (file pdf)

Library USU

002

SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL (file pdf)

Library USU

001

PROF. DR. I GUSTI NGURAH BAGUS DALAM INGATAN  

2006-09-29

DAFTAR YANG LAIN

 

Posted by Pertampilan S. Brahmana in 12:27:42 | Permalink | Comments Off