Sunday, January 25, 2009

MENGHAPUS KEMISKINAN: MUNGKINKAH?

TULISAN MINGGU INI

http://www.friendster.com/brahmanamedan

 

 

MENGHAPUS KEMISKINAN: MUNGKINKAH?

Tulisan ini pemikiran spekulatif.

Oleh Pertampilan S. Brahmana

 

1. Pendahuluan

 

Kemiskinan berasal dari kata miskin. Miskin artinya tidak berharta benda, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Ini dikenal dengan miskin  material. Namun ada pula kemiskinan dalam bentuk lain, misalnya pendidikan yang rendah atau tidak pernah mengecap bangku pendidikan. Ini juga dapat dikategorikan dengan kemiskinan, tetapi bukan masuk kategori kemiskinan materi, walau materi (uang) turut memberikan andil terhadap terciptanya kemiskinan karena  pendidikan ini,

 

Namun ada lagi yang disebut dengan kemiskinan absolut. Kemiskinan absolut adalah  situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum.

 

Ada yang membagi kemiskinan atas dua bahagian:

 

No

Kemiskinan

Pengertian

1

Kemiskinan struktural

adalah kemiskinan yang disebabkan jauhnya dari struktur yang ada, seperti alat-alat produksi, jauh dari pengambilan keputusan, terasing dari kemungkinan partisipasi, dan sebagainya. John  Galtung mengkategorikan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang berada di luar “pusat” (center) yaitu orang-orang yang berada di pinggiran (periphery).

2

Kemiskinan absolut

adalah selain jauh dari “pusat” (center) juga rendah pendapatan perkapita pertahun,  kurang gizi, buruk kesehatan dan miskin pendidikan. Atau dengan istilah lain kemiskinan  absolut selain jauh dari pusat (center) juga miskin akan kebutuhan dasar (basic needs).

 

Namun ada pula yang membagi kemiskinan atas tiga bahagian yaitu:

 

No

Kemiskinan

Pengertian

1

Kemiskinan struktural

yaitu sekelompok manusia yang sumber mata pencahariannya terbatas, misalnya luas tanah yang hanya 0,2 hekatare dikerjakan oleh tiga atau empat orang. Indikator ini juga menunjukkan adanya pengangguran terselubung.

2

Kemiskinan kultural

yaitu mereka yang taraf hidupnya sudah miskin secara secara turun temurun, dan kemiskinan yang mereka alami ini dianggap sudah memang demikian takdir Tuhan terhadap mereka (nasib). Orang luar, menganggap keadaan masyarakat seperti ini perlu diperbaiki, sedangkan yang mengalaminya sendiri adalah sebaliknya, karena sudah terbiasa dengan keadaanya maka mereka tidak pernah ambil pusing lagi kepada keadaannya. Contoh seperti ini adalah mereka yang menganut paham fatalistik. Atau kelompok Saminisme di Jawa atau kelompok pengikut gerakan Ratu Adil, baik yang terdapat di Jawa (Saminisme), gerakan Koreri di Biak Irian Jaya dan sebagainya.

3

Kemiskinan Temporal

adalah sekelompok orang yang miskin disebabkan oleh situasi dan keadaan tertentu yang sifatnya sementara. Sebagai contoh miskin yang disebabkan adanya bencana alam, apakah itu karena korban gempa bumi, korban air bah, dan juga mereka yang menjadi korban dari pembangunan.

 

Asian Development Bank (ADB) (2005:7), memahami kemiskinan dengan indikator kurangnya akses untuk mendapatkan barang, jasa, asset dan peluang penting yang menjadi hak setiap orang. Setiap orang harus bebas dari rasa lapar, harus dapat hidup dalam damai, dan harus mempunyai akses untuk mendapatkan pendidikan dasar dan jasa-jasa layanan kesehatan primer. Keluarga-keluarga miskin butuh mempertahankan kelangsungan hidup mereka dengan cara bekerja dan mendapatkan imbalan secara wajar serta seharusnya mendapatkan perlindungan yang dibutuhkan terhadap guncangan-guncangan dari luar. Sebagai tambahan, perorangan maupun masyarakat juga miskin –dan cenderung terus miskin – apabila mereka tidak diberdayakan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan-keputusan yang mempengaruhi hidup mereka.

 

Pandangan ADB (2005:11) ini, karena ADB menyadari sifat dasar kemiskinan amatlah kompleks dan faktor-faktor penyebabnya amat beragam. Kaum miskin mungkin tidak memiliki aset maupun kemampuan yang bersifat esensial karena mereka tinggal di daerah yang terpencil, rawan konflik, dan mempunyai sumberdaya sangat terbatas. Orang-orang ini mungkin rentan karena usia, kesehatan, lingkungan tempat tinggal, ataupun pekerjaan. Stagnasi dalam bidang ekonomi bisa mempersempit peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan atau produktif. Kaum miskin ini mungkin tidak memperoleh akses untuk mendapatkan aset-aset maupun jasa-jasa layanan karena mereka tergolong ke dalam etnis minoritas atau suatu komunitas yang yang dianggap lemah secara sosial, atau mungkin semata-mata karena mereka adalah kaum perempuan, cacat, atau berbeda. Dalam tingkatan yang lebih luas, kemiskinan mungkin berasal dari situasi dimana ada ketimpangan yang besar secara terus menerus akibat dari kepentingan dan struktur kekuasaan yang cenderung mempertahankan status quo. Keanekaragaman kondisi dan sebab-sebab kemiskinan tersebut mengisyaratkan bahwa intervensi-intervensi untuk mengurangi kemiskinan harus disesuaikan menurut keadaan-keadaan tertentu.

 

2. Di Balik Angka-Angka Penduduk Miskin di Indonesia

 

Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006, mengungkapkan jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan.

 

Kemudian terjadi pergeseran posisi penduduk miskin dan hampir miskin selama periode Februari 2005-Maret 2006. Sekitar 56,51 persen penduduk miskin pada bulan Februari 2005 tetap tergolong sebagai penduduk miskin pada Maret 2006, sisanya berpindah posisi menjadi tidak miskin. Sebaliknya, 30,29 persen penduduk hampir miskin di bulan Februari 2005 jatuh menjadi miskin pada bulan Maret 2006. Pada saat yang sama, 11,82 persen penduduk hampir tidak miskin di bulan Februari 2005 juga jatuh menjadi miskin pada bulan Maret 2006. Bahkan 2,29 persen penduduk tidak miskin juga terjatuh menjadi miskin di bulan Maret 2006. Perpindahan posisi penduduk ini menunjukkan jumlah kemiskinan sementara (transient poverty) cukup besar.

 

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia

Menurut Daerah, 1996-2005

 

 

TAHUN

JUMLAH PENDUDUK MISKIN/ JUTA

PERSENTASE PENDUDUK MISKIN

 

DESA


KOTA

DESA+KOTA

DESA

KOTA

DESA+KOTA

1996

9,42

24,59

34,01

13,39

19,78

17,47

1998

17,60

31,90

49,50

21,92

25,72

24,23

1999

15,64

32,33

47,97

19,41

26,03

23,43

2000

12,30

26,40

38,70

14,60

22,38

19,14

2001

8,60

29,30

37,90

9,76

24,84

18,41

2002

13,30

25,10

38,40

14,46

21,10

18,20

2003

12,20

25,10

37,30

13,57

20,23

17,42

2004

11,40

24,80

36,10

12,13

20,11

16,66

2005

12,40

22,70

35,10

11,37

19,51

15,97

 

Sumber: Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006

 

Ada apa di balik angka kemiskinan? Kecuk Suhariyanto Kepala Subdit Analisis Statistik, BPS, menulis di harian Kompas 14 September 2006, mengemukakan bahwa ada 4 masalah di dalam di balik angka kemiskinan, yang menunjukkan berbagai permasalahan yang meresahkan dan perlu mendapat perhatian.

 

Pertama, persoalan kemiskinan bukan sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Ada indikasi bahwa Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan kecenderungan meningkat. Dengan kata lain, kehidupan ekonomi penduduk miskin semakin memburuk. Indikator ini dapat kita lihat pada masyarakat yang mulai memakan nasi aking, pada saat harga beras mahal.

 

Kedua, kenaikan harga beras dan berbagai barang kebutuhan pokok lainnya membuat penduduk miskin tak punya pilihan lain dan terpaksa mengurangi kuantitas barang-barang kebutuhan pokok yang dikonsumsi. Bila tidak  segera ditangani, masalah ini, berakhir ke masalah kesehatan dan kekurangan gizi di kemudian hari.

 

Ketiga, kalau penurunan pengeluaran hanya terjadi untuk sandang atau pakaian saja, mungkin tak jadi apa, yang memprihatinkan, kalau penurunan pengeluaran juga terjadi untuk keperluan pendidikan dan kesehatan. Jangka panjang,  ini akan membuat akses penduduk miskin terhadap sumber daya ekonomi akan semakin kecil berubah menjadi kemiskinan absolut.

 

Keempat, adanya perpindahan posisi penduduk dari miskin menjadi hampir/tidak miskin dan sebaliknya dalam jumlah yang cukup besar menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang tergolong miskin sementara (transient poor), yaitu penduduk yang penghasilannya dekat dengan garis kemiskinan, cukup besar. Sedikit guncangan ekonomi akan menyebabkan mereka berubah status. Karena itu, setiap kebijakan yang akan diambil, selain harus memperhitungkan dampaknya pada penduduk miskin kronis, juga harus mempertimbangkan dampaknya pada penduduk miskin sementara.

 

 

3. Wacana Kemiskinan di Indonesia

 

Cerita tentang kemiskinan yang dialami masyarakat Indonesia setahun sebelum kekuasan Orde Baru berakhir, sangat mengkhawatirkan. Bahkan ada yang menilai Indonesia pada masa ini nyaris menjadi negara yang gagal. Gagal mensejahterakan rakyatnya, gagal memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Kegagalan ini, karena  kesejahteraan yang telah dicapai pada masa orde baru, tidak dapat dipertahankan pada awal memasuki orde reformasi.

 

Kondisi Kesejahteraan Awal Orde Reformasi

Penduduk Miskin

Menjadi 97,4 juta jiwa. = seperti negara-negara di Afrika

PHK

Bertambah mencapai 5,4 juta jiwa.

Keamanan pekerjaan

Tidak ada jaminan. Sewaktu-waktu dapat di PHK

Kehilangan Pekerjaan

Semakin bertambah

Pengangguran

Meningkat mencapai 6,7 juta jiwa.

Kondisi Bayi

Diperkirakan 4 juta bayi yang mengalami kekurangan gizi

Kematian Ibu

Diperkirakan meningkat menjadi 373 per 100.000 kelahiran hidup. –à dapat terjadi the lost of generation di Indonesia.

Sumber: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), 1998)

 

Masalah kondisi kesejahteraan rakyat Indonesia menurun drastis dalam dalam ringkasan assessment keadaan hak asasi manusia 1998, yang diedarkan oleh Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) mengungkapkan situasi ekonomi Indonesia yang terpuruk pada awal reformasi, berdampak langsung pada pemenuhan hak-hak ekonomi rakyat Indonesia. ELSAM, mencatat tingkat kehidupan rata-rata orang Indonesia anjlok secara dratis ke tingkat terendah. Ini artinya rata-rata rumah tangga di Indonesia tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan paling elementer (basic need) seperti beras, gula dan seterusnya. Pemerintah gagal memenuhi hak atas tingkat kehidupan yang layak bagi warga negaranya.

 

Arti lainnya adalah jumlah orang miskin pada masa ini bertambah secara dramatis, yakni menjadi 97,4 juta jiwa. Indonesia kembali terpuruk menjadi negera miskin, sama seperti negara-negara di Afrika. Kemudian tingkat orang kehilangan pekerjaan pun makin bertambah. Selain tidak ada jaminan keamanan atas pekerjaan (security of work), karena sewaktu-waktu dapat hilang secara sekonyong-konyong. Keadaan ini terlihat dari angka-angka pemutusan hubungan kerja dan pengangguran, yang menurut ILO mencapai 5,4 juta pekerja. Sedangkan angka pengangguran mencapai 6,7 juta jiwa. Ini semua menunjukkan kegagalan pemerintah menjamin hak atas pekerjaan (right to work). Ini dapat terjadi karena Pemerintah juga gagal dalam memenuhi hak atas pangan (right to food). Deretan orang lapar sekarang sudah meluas hampir di seluruh Indonesia, dan gejala bunuh diri pun merebak di beberapa daerah. Bayi-bayi mengalami busung lapar di mana-mana, karena ketiadaan makanan yang layak. Diperkirakan ada 4 juta bayi yang mengalami kekurangan gizi, dan angka kematian Ibu meningkat menjadi 373 per 100.000 kelahiran hidup. UNICEF meramalkan akan terjadi the lost of generation di Indonesia. Ini bukan hanya disebabkan oleh gejala alam el nina, tetapi terutama akibat kegagalan kebijakan. Pemerintah juga gagal dalam Pemerintah juga gagal dalam memenuhi hak atas kesehatan (right to health). Saat ini pemerintah sudah tidak dapat lagi menyediakan fasilitas kesehatan dasar, karena pemangkasan anggaran untuk kesehatan di dalam APBN. APBN 1997/1998 menyediakan anggaran sebesar Rp. 2,3 trilyun, padahal kebutuhan obat untuk tahun anggaran yang sama sebesar Rp. 3,2 trilyun.

 

Bappenas mengungkapkan Krisis ekonomi tahun 1997/98 telah memberikan pelajaran yang sangat mahal namun berharga bagi bangsa Indonesia. Krisis telah memaksa Indonesia melakukan perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka koreksi kelemahan dan kesalahan masa lalu. Ekonomi, politik, sosial dan hukum mengalami transformasi dan reformasi menuju kepada suatu sistem baru yang diharapkan akan lebih berkeadilan, handal, dan berkelanjutan.

 

Dalam pidato kenegaraannya pada tanggal 16 AGustus 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 mencapai angka 5,6%. Pertumbuhan ekonomi dalam triwulan I 2006 tercatat sebesar 4,7 persen. Dalam triwulan kedua pertumbuhan ekonomi menunjukkan gejala peningkatan dan tercatat sebesar 5,2 persen, lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh banyak pihak. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2006 mencapai hampir 5 persen. Tingkat pengangguran telah mulai menurun dari 11,2% pada bulan November tahun 2005 menjadi 10,4 persen pada awal tahun 2006.

 

Pengentasan kemiskinan merupakan satu paket yang tidak terpisahkan dengan upaya penciptaan lapangan kerja, yang menjadi fokus utama dari kebijakan ekonomi pemerintah, karena itu pemerintah telah dan akan terus menyempurnakan dan mensinergikan program penciptaan lapangan kerja, dengan berbagai program strategis di bidang diversifikasi energi, pembangunan infrastruktur perdesaan, serta program pembangunan perumahan.

 

Angka-angka kemiskinan yang dikemukakan Presiden mendapat reaksi keras dari kalangan DPR. Kalangan DPR memandang, penurunan tersebut bukan terjadi semasa SBY sebagai presiden. Penurunan itu terjadi semasa sebelum SBY menjadi Presiden.

 

Ini artinya kalangan DPR curiga jumlah angka kemiskinan semasa SBY menjabat Presiden lebih besar dari angka-angka yang dikemukakan tersebut di atas. Maka data kemiskinan yang digunakan dalam Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukan data terbaru.

 

Angka kemiskinan yang dibeberkan SBY di depan DPR menggambarkan penurunan dari 23,4 persen pada 1999 menjadi 16 persen pada tahun 2005.  Data tersebut masih dipakai dengan alasan Badan Pusat Statistik (BPS) belum mengeluarkan data terbaru per tahun 2006. Para ekonom menyebutkan, angka kemiskinan justru mengalami kenaikan, yaitu 16 persen per Februari 2005 menjadi 18,7 persen per Juli 2005 sampai 22 persen per Maret 2006 (SIB, 21 August 2006). Ini menunjukkan bahwa memberantas kemiskinan itu sulit, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

 

Awal September 2006 Kepala BPS Rusman Heriawan dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jalan Dr. Soetomo, Jakarta, (1/9/2006) mengungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan penduduk miskin per Maret 2006 menjadi 39,05 juta orang atau 17,75 persen dari total penduduk 222 juta jiwa. Angka kemiskinan tersebut mengalami kenaikan 3,95 juta orang dibanding Februari 2005 yang sebesar 15,97 persen atau 35,10 juta. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. (Detik..com 01/09/2006)

 

4. Indikator Kemiskinan

 

Apa indikator kemsikinan? Apakah cukup hanya misalnya pendidikan rendah, pendapatan yang rendah?

 

Menurut Sunarto dari  Yayasan Bina Lingkungan Masta,  pendapatnya ini dikemukakan pada Semiloka Indikator Kemiskinan dan Strategi Pengurangannya di Kawasan Hutan Secara Partisipatif, yang diselenggarakan oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan Perum Perhutani KPH Kedu Selatan pada tanggal 12/9/2006, mengatakan indikator kemiskinan khusus untuk masyarakat desa  sangat beragam, mulai dari rumah, penghasilan, luas lahan pertanian, pendidikan, kendaraan, pola makan, jumlah ternak, hingga ketersediaan fasilitas kamar mandi di rumah. Maka sebenarnya yang menentukan masyarakat itu miskin atau tidak identifikasinya  harus dilakukan oleh masyarakat sendiri, masyarakat itu sendiri disuruh menilai sendiri taraf kemiskinan di lingkungan mereka. Sebab, kemiskinan sangat terkait dengan kebutuhan yang tak mampu dipenuhi oleh masyarakat,” Sunarto (Kompas, 15 September 2006). 

 

Apa yang dikemukakan oleh Sunarto, mungkin pendekatan yang lebih bernuansa HAM yaitu terpenuhinya hak dalam memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

 

No

Uraian

1

Hak untuk hidup

2

Hak untuk mengembangkan diri

3

Hak untuk memperoleh keadilan

4

Hak atas kebebasan pribadi.

5

Hak atas rasa aman

6

Hak atas kesejahteraan

7

Hak turut serta dalam pemerintahan.

 

Artinya program-program yang bersifat meminimalkan kemiskinan tersebut memberi peluang kepada masyarakat desa untuk hak bertahan untuk hidup, hak untuk mengembangkan diri, merasakan keadilan, merasakan  kebebasan pribadi, rasa aman, dan secara tidak langsung ikut serta dalam pemerintahan, sebagai warga negara.

 

5. Penyebab Laten Kemiskinan di Indonesia

 

Menurut Bappenas, masalah-masalah yang dihadapi  dan tantangan  dalam pembangunan Indonesia ke depan adalah sebagai berikut:

 

1

masih rendahnya pertumbuhan ekonomi

2

kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah

3

masih kurang menyatunya kegiatan perlindungan lingkungan hidup dengan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam sehingga sering melahirkan konflik kepentingan antara ekonomi sumber daya alam (pertambangan, kehutanan) dengan lingkungan,

4

kesenjangan pembangunan antar daerah masih lebar, seperti antara Jawa – luar Jawa, antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) – Kawasan Timur Indonesia (KTI), serta antara kota – desa,

5

kualitas dan pelayanan infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih dan masih tertundanya pembangunan infrastruktur baru,

6

masih adanya potensi aksi separatisme dan konflik horizontal.

Sumber: Bappenas 2005: 2)

 

Dalam rangka menjawab semua tantangan dalam pembangunan Indonesia 2004-2009, Pemerintah Indonesia telah menetapkan tiga agenda pembangunan jangka menengah yaitu:

 

1

menciptakan Indonesia yang aman dan damai,

2

menciptakan Indonesia yang adil dan demokratis,

3

meningkatkan kesejahteraan rakyat. Khusus terkait agenda yang meningkatkan kesejahteraan rakyat, prioritas pembangunan dan arah kebijakannya adalah sebagai berikut: penanggulangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran, peningkatan investasi, revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan, pembangunan perdesaan dan pengurangan ketimpangan antar wilayah, peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan dan layanan kesehatan yang berkualitas, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial, pembangunan kependudukan yang berkualitas, dan percepatan pembangunan infrastruktur.

Sumber: Bappenas 2005: 2)

 

5.1 Indikator Kemiskinan di Indonesia

 

Apa indikator kemiksinan di Indonesia? Indikator kemiskinan itu bergantung dari sisi mana dirumuskan. Dari sisi gizi misalnya hingga hari ini, masih ada masyarakat Indonesia yang mengalami malnutrisi (gizi kurang/buruk).  Saran yang  mengemuka  di dalam International Expert Seminar on Child Growth and Poverty yang diselenggarakan pada bulan November 2002 di Jakarta, sepakat bahwa proporsi anak balita kurang gizi atau berberat badan rendah merupakan salah satu indikator kemiskinan.

 

Data Susenas pada tahun 2003 menunjukkan bahwa jumlah anak berstatus gizi kurang dan buruk masih sekitar 5,1 juta orang.  Data pada tahun 1997 menunjukkan bahwa anak-anak usia 2-3 tahun yang tidak pernah mengkonsumsi daging, telur, ayam, dan hati berjumlah sekitar 20-25 persen. Sementara penduduk Indonesia secara keseluruhan hanya minum susu 19 tetes sehari dan makan telur 1 butir per minggu. Maka malnutrisi ini berakar dari kemiskinan.

 

Indikator lain adalah pendapatan yang rendah. Rumah yang tidak layak dan sebagainya. Kategori indikator ini bergantung siapa yang menggunakannya.

 

5.2 Penyebab Laten Kemiskinan di Indonesia

 

Untuk mengurangi jumlah penduduk dari lembah kemiskinan sangat sulit. Kesulitan ini disebabkan faktor dari luar dan dari dalam serta dampak keduanya.

 

5.2.1 Akibat Pertarungan atau tarik menarik Ideologi di dalam Negara Indonesia.

 

Mungkin pertanyaan saya ini kurang popular dikemukakan, namun ada baiknya kita renungkan. Melalui pembangunan rumah ibadah yang semakin banyak dan semakin megah, mampukah meningkatkan kesejahteraan, mengangkat  masyarakat Indonesia dari keterpurukan ekonomi?

 

Saya memastikan jawabannya tidak. Justru semakin banyak rumah ibadah dibangun tidak berkolerasi positip membangun kesejahteraan rakyat Indonesia, yang terjadi adalah berkolerasi negatif (?).

 

Berdasarkan Statistic Book of Indonesian Potential Village Statistics Indonesia Year 2005, jumlah rumah-rumah ibadah di Indonesia adalah sebagai berikut:

 

No

PROVINCE

Mosque

Surau /Langgar

Church of

Protestant

Church of Catholic

Temple

 

Vihara /Klenteng

1

Nanggroe Aceh Daru-ssalam

3392

 

8243

 

151

 

21

4

26

2

North Sumatera

8833

8913

7760

1452

60

392

3

West Sumatera

4405

11105

178

77

1

19

4

Riau

6025

8526

790

186

20

329

5

Jambi

3215

5192

112

34

3

28

6

South Sumatera

6809

8521

308

171

167

110

7

Bengkulu

2475

1629

118

39

23

11

8

Lampung

9567

15729

711

337

454

126

9

Bangka Belitung

755

632

93

36

6

170

10

DKI Jakarta

2936

5983

550

156

42

157

11

West Java

50399

120276

578

175

37

145

12

Central Java

38838

94979

2366

547

165

457

13

D.I Yogyakarta

6243

4835

276

177

19

22

14

East Java

36822

144162

1868

404

416

162

15

Banten

7727

17500

164

45

7

74

16

Bali

232

277

95

38

10504

41

17

West Nusa Tenggara 

4838

8297

28

12

401

30

18

East Nusa Tenggara 

736

219

3704

2501

28

5

19

West Kalimantan 

3136

3804

2017

1944

31

446

20

Central Kalimantan

1475

2784

1176

241

233

51

21

South Kalimantan 

2518

7590

151

33

75

16

22

East Kalimantan 

2332

2995

1191

394

41

17

23

North Sulawesi

876

257

3824

243

18

27

24

Central Sulawesi

2819

1099

1625

172

271

23

25

South Sulawesi

11743

2608

2766

492

153

26

26

South-East Sulawesi

2565

905

199

51

194

12

27

Gorontalo

1664

196

116

22

19

6

28

Maluku

950

477

843

181

10

14

29

North Maluku

924

572

567

36

1

4

30

Papua

750

963

4721

833

32

12

 

Jumlah

226019

489268

39086

11050

13435

2958

Source : Statistic Book of Indonesian Potential Village Statistics  Indonesia Year 2005

 

Sedangkan Regulasi Syariat Agama antara lain:

 

Tabel Regulasi Syariat Agama di Berbagai Propinsi

 

No

Nama Perda / SK

Isi Perda

Regio

Penggagas / Penggerak

Problem

 

1

Perda No.03 Tahun 2002

Larangan, pengawasan, penertiban, dan penjualan  minuman keras

Bulukumba (Sulawesi Selatan)

Bupati Patabai Pabokori (Golkar)

dan KPPSI Sulsel (Aziz Kahar

Muzakkar).

Penertiban miras  setengah hati; di komplek pariwisata miras tidak dilarang

atas nama pendapatan daerah.

2

Perda N0. 02 Tahun 2003

Pengelolaan zakat, infaq, dan shadaqah

Idem

Idem

Diskriminasi pelayanan publik; pemotongan gaji guru secara sepihak untuk pembangunan masjid

3

Perda No.05 Tahun 2003

Berpakaian muslim dan muslimah

Idem

Idem

Pemaksaan terhadap minoritas (non Islam); tidak adanya layanan publik bagi yang tak berjilbab

4

Perda No.6 Tahun 2005

Pandai baca Tulis Al-Qur’an Bagi Siswa dan Calon Pengantin

Idem

Idem

Kawin lari semakin meningkat; konflik keluarga karena  pembatalan pernikahan bagi yang tidak bisa mengaji; diskriminasi perlakuan antara pejabat dan masyarakat biasa dalam pernikahan; mematikan pengajian-pengajian (surau) kampung; komersialisasi ‘ngaji’; menguntungkan BKPRMI (Badan Koordinasi Persatuan Remaja Masjid Indonesia) / pihak yang berwenang mengeluarkan sertifikat kepandaian mengaji

5

Perda No.9 Tahun 2009

Pengelolaan Zakat Profesi

Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat)

DPRD Lombok Tmur

Pemotongan sepihak gaji guru yang minim; tidak adanya transparansi dari pemda

6

Perda No.18 Tahun 2001

Larangan Perdedaran Minuman Beralkohol.

Pamekasan (Madura)

Bupati Dwiatmo Hadiyanto (?) dan DPRD Madura

Definisi miras terlalu umum sehingga dapat dimanfaatkan oknum tertentu.

7

Surat Edaran Nomor 061/2896/Org

Anjuran Pemakaian Seragam Kerja (Muslim/Muslimah) pada Hari-hari Kerja

Cianjur (Jawa Barat)

Bupati Wasidi Swastomo (PKB)

Anjuran pemakaian menjadi sebuah kewajiban yang diikuti sanksi

 

8

Instruksi Walikota Nomor 451.442/Binsos-III/2005

 

Pewajiban Jilbab dan Busana Islami (bagi Orang Islam) & Anjuran Memakainya (untuk Non-Islam).

Padang (Sumatera Barat)

Fauzi Bahar (Golkar)

Anjuran jilbab untuk minoritas berubah menjadi sebuah ‘kewajiban yang tak tertulis’

 

9

Surat Edaran Bupati No.451/SE/04/Sos/2001

Anjuran untuk Memakai Pakaian Seragam Sesuai dengan Ketentuan yang Menutup Aurat bagi sisiwi SD, SLTP, SMU/SMK, Lembaga Pendidikan Kursus, dan Perguruan Tinggi yang Beragama Islam.

Tasikmalaya (Jawa Barat)

 

Bupati Tatang Farhanul Hakim (PPP) & DPRD (Fraksi PPP dan PbB)

Anjuran menjelma menjadi kewajiban yang memaksa

 

10

Qanun No. 13/2003

Maisir (Perjudian)

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)

DPRD NAD

Sanksi yang diberlakukan belum menyentuh penjudi kelas kakap.

11

Qanun No.14/2003

Khalwat (Mesum)

Idem

Idem

Idem Pengertian soal khalwat yang belum padu antara perumus dan pelaksana; kekhawatiran perempuan sebagai korban

12

Qanun No.7/2004

Zakat

Idem

Idem

Jika diterapkan secara terpisah atau tidak diselaraskan dengan ketentuan mengenai perpajakan dapat menimbulkan pajak ganda bagi kaum Muslim sehingga akan ada diskriminasi antara warga Muslim dengan non-Muslim.

13

Surat Gubernur Riau No 003.1/UM/08.1/2006

 

Pembuatan Papan Nama Arab Melayu

Riau

Gubernur Rusli Zaenal (Golkar)

Kesalahan pada penulisan ejaan sehingga diperlukan tim khusus menandakan bahwa masyarakat belum siap sekaligus perlu diadakan anggaran khusus untuk itu

14

Raperda Berbasis Injil

Pasal Diskriminatif Reperda Manokwari

Butir 14 Ketentuan Umum: Injil sebagai kabar baik
Pasal 25: Pembinaan mental memperhatikan budaya lokal yang menganut agama Kristen
Pasal 26: Pemerintah dapat memasang simbol agama di tempat umum dan perkantoran
Pasal 30: Melarang pembangunan rumah ibadah agama lain jika sudah ada gereja
Pasal 37: Melarang busana yang menonjolkan simbol agama di tempat umum.

Kristen

Pemerintah dan DPRD Kab Manokwari, Provinsi Irian Jaya Barat.

 

Sumber: Wahidinstitute dan Harian Republika On Line 23 Maret 2007

 

Tarik menarik ideologi seperti ini, secara langsung atau tidak langsung berdampak kepada penciptaan kesejahteraan rakyat. Dampaknya dapat berupa, tenaga kerja yang dipilih adalah yang beragama tertentu saja. Pegawai yang potensial dalam memajukan sebuah unit usaha, namun karena bukan beragama seperti yang diharapkan diterlantarkan. Dampak lain, rakyat bukan diajak berpikir untuk meningkatkan kesejahteraannya secara rasional, tetapi dibawa berpikir (futuristik) untuk memikirkan kehidupan sesudah mati, masuk surga atau tidak masuk surga, sementara hidup di dunia ini masih berjalan.

 

Dampak positip pertarungan ideologi futuristik seperti ini, perlu direnungkan lebih lanjut bagi upaya peningkatan mengurangi masyarakat miskin.

 

5.2.2 “Politisasi“  Kebutuhan Rakyat seperti BBM, Minyak Goreng, Beras, Gas Elpiji, Listrik, Gula, Pupuk.

 

Naiknya harga BBM, mau tidak mau akan mempengaruhi harga-harga barang-barang yang ada di pasaran. Kenaikan harga barang-barang ini pasti mempengaruhi daya beli masyarakat kelas bawah. Akibat penghasilan tidak bertambah di satu sisi, dan harga barang-barang naik di sisi lain, masyarakat kelas bawah akan mengadakan pengetatan ikat pinggangnya. Pengetatan ikat pinggang ini pada gilirannya mengarah kepada upaya untuk bertahan hidup. Kondisi ini akan mempengaruhi asupan gizi kepada mereka. Bila asupan gizi kurang, semua sudah tahu, bagaimana akibatnya. Masyarakat kelas bawah akan mengalami kemiskinan yang melingkar. Kurang gizi, mengakibatkan kesehatan memburuk. Kesehatan memburuk mengakibatkan produktifitas kerja yang menurun. Produktifitas kerja menurun, mengakibatkan penghasilan berkurang demikian seterusnya.

 

Kondisi seperti ini berimplikasi multi dimensi. Boleh jadi tindak kriminilitas tinggi. Boleh jadi para kaum muda mudah dibeli untuk dipolitisasi untuk tujuan-tujuan demonstrasi. Inilah implikasi bertambahnya jumlah penduduk miskin. Ini jelas beban berat buat negara dari sektor keamanan.

 

Ada kesan kenaikan harga barang-barang, kelangkaan barang-barang tertentu, yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat yang berakibat secara temporer harga barang-barang tersebut naik, ditenggari ini adalah bagian dari mempolitisasi kebutuhan masyarakat. Tujuannya bermacam-macam, sebagai upaya  menjelek-jelekkan pemerintah yang sedang berkuasa, atau bermotif ekonomi murni. Kegiatan mempolitisasi seperti ini bukan mengurangi jumlah penduduk yang miskin, tapi berefek negatif bagi pengurangan masyarakat miskin.

 

Hal yang sebaliknya terjadi, penurunan harga BBM, tidak signifikan kepada penurunan harga barang-barang. Bahkan di  sektor transportasi, penurunan ongkos angkutan umum, seiring dengan diturunkannya harga BBM, tidak berlaku mulus, ada yang setuju, tetapi lebih banyak yang tidak setujunya. Alasannya pun bervariasi.

 

5.2.3  Rupiah Yang Dijual (Dijadikan Komoditi)

 

Mata uang Rupiah sebenarnya bukan dikurskan, tetapi dijual, dijadikan komoditi oleh negara. Kalau dikurskan nilai tukarnya tentu stabil, tetapi kalau dijual, berarti bergantung kepada kebutuhan pasar.

 

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang negara asing yang tidak stabil, sangat mempengaruhi daya beli sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Indonesia yang menyimpan uangnya dalam bentuk rupiah, karena harga barang-barang hasil tekonologi dan sudah bukan menjadi barang mewah selalu ditentukan harganya berdasarkan nilai tukar rupiah. Bila nilai tukar rupiah terhadap dollar lemah, maka lemah pula nilai rupiah yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Sedangkan mereka yang “memegang” dollar, daya belinya stabil.

 

Disadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, dijadikan komoditi mata uang rupiah, atas nama nilai kurs yang tidak tetap, secara tidak sadar sebenarnya menguras energi masyarakat yang menabung uangnya di dalam bentuk rupiah, dan memperbesar pundi-pundi mereka yang menambung dalam bentuk mata uang asing.

 

Penghasilan yang diterima dalam bentuk rupiah tidak akan mampu mengimbangi harga-harga  barang yang dijual yang harganya selalu dikonversikan ke dalam mata uang asing (dollar).  Apalagi bila nilai dollar sangat tidak stabil terhadap rupiah, harga barang-barang juga dapat dalam tiap jam atau hari bergerak menyesuaikan dengan nilai dollar (mata uang asing), sementara di sisi lain, pendapatan, penghasilan yang diterima, penyesuainnya bisa setahun sekali baru dapat dilaksanakan. Ini pun dalam beberapa kasus, misalnya buruh, harus pula melakukan demontrasi menuntut penyesuaian upah mereka.

 

Maka bila nilai dollar tinggi terhadap rupiah, dan ini mempengaruhi harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, maka jumlah penduduk miskin Indonesia secara temporer akan bertambah, namun bila nilai dollar melemah terhadap rupiah, jumlah penduduk miskin Indonesia secara temporer akan berkurang juga, walau tidak jelas persentase pengurangannya.

 

Cara terbaik sebenarnya dengan menentukan nilai rupiah yang stabil terhadap mata uang asing. Artinya  nilai rupiah tidak dijual, tetapi ditentukan nilai tetapnya. Bila rupiah masih tetap diperjual belikan (bukan disetarakan dengan mata uang asing), sama saja dengan menjual energi bangsa ini. Nilai rupiah sebaiknya dipatok. Satu dollar Amerika Serikat sama dengan 8.000,- rupiah misalnya. Nilai tukar ini dapat ditetapkan untuk jangka waktu 10 tahun setelah itu ditinjau kembali.

 

Iklim seperti ini bagi yang berideologi kapitalis jelas tidak menarik sebab memperlambat penambahan kekayaannya (kapitalnya). Dan mereka yang menyimpan tabungannya dalam bentuk mata uang asing, pasti tidak akan setuju.

 

Maka menjual rupiah ini sama saja dengan mempermain-mainkan energi masyarakat kelas bawah ke arah yang tidak mendukung pengurangan masyarakat  kemiskinan.

 

6. Gagalnya Program Meminimalkan Kemiskinan Akibat Misklasifikasi?

 

Kemiskinan di Indonesia merupakan masalah multidimensi yang penanganannya membutuhkan keterkaitan berbagai pihak. Sebagai contoh, rendahnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak usia 13-15 tahun dari kelompok penduduk termiskin, misalnya, bukan hanya akibat dari tidak adanya biaya, melainkan juga karena jauhnya lokasi sekolah sehingga membutuhkan biaya  transportasi  yang besar . Dalam mendapatkan layanan kesehatan, masyarakat miskin juga dihadapkan pada mahalnya biaya pengobatan dan perawatan, jauhnya tempat pelayanan kesehatan, dan rendahnya jaminan kesehatan. Kondisi tempat tinggal yang tidak layak atau terisolir menyebabkan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan kasus gizi buruk pada anak balita dari keluarga miskin. Demikianlah dimensi kemiskinan seperti kemiskinan yang melingkar.

 

Penyebab lain kemiskinan di Indonesia adalah masalah kesenjangan pembangunan antar wilayah. Sebagian besar penduduk miskin berada di Jawa dan Bali, namun prosentase penduduk miskin di luar Jawa dan Bali khususnya di Kawasan Timur Indonesia jauh lebih tinggi.  Kesenjangan antarwilayah ditandai oleh beberapa permasalahan seperti antara lain:

 

 

Kesenjangan antarwilayah

1

banyaknya wilayah-wilayah yang masih tertinggal pembangunannya termasuk wilayah perbatasan;

2

belum berkembangnya wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh;

3

ketidakseimbangan pertumbuhan antar kota-kota besar, metropolitan dengan kota-kota menengah dan kecil;

4

masih adanya kesenjangan pembangunan antar desa dan kota;

5

rendahnya pemanfaatan rencana tata ruang sebagai acuan pembangunan;

6

sistem pengelolaan pertanahan yang belum optimal.

Sumber: Panduan Operasional Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPKD). 2005.  

 

Upaya penanggulangan kemiskinan bertujuan untuk membebaskan dan melindungi masyarakat dari kemiskinan, mencakup tidak saja upaya untuk mengatasi ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar tetapi juga untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam proses pembangunan.

 

Upaya pemberdayaan masyarakat miskin menjadi penting karena hal ini mendudukkan mereka bukan sebagai obyek melainkan subyek berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. Berbagai proses pemenuhan kebutuhan dasar dan pemberdayaan tersebut di atas perlu didukung perbaikan sistem bantuan dan jaminan sosial serta kebijakan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat miskin (pro-poor) dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). (Sumber: Panduan_Operasional_ TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN (TKPKD). 2005)  

 

Menyadari hal tersebut, pemerintah bukannya tidak berbuat, 10 instansi dan departemen mengelola program-program  penanggulangan kemiskinan.

 

Instansi atau Departemen Yang Mempunyai Program Peminimalan Kemiskinan Pada Tahun 2002

 

No

Instansi/

departemen

Program

1

BKKBN

- Pemberdayaan Keluarga

2

Pertanian

- Pengembangan Agribisnis (Proyek Peningkatan

- Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil = P4K)

3

Kimpraswil

- Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)

4

Industri dan Perdagangan

- Kemitran

- Penumbuhan Wirausaha Baru

- Penyelenggaraan Klinik Bisnis

5

Koperasi dan UKM

- Program Penyaluran Dana Bergulir untuk Perkuatan USP/KSP/LKM

- Perkuatan Permodalan dan Lembaga Keuangan melalui Penyediaan Modal Awal dan Pendanaan (P2LKMAP)

6

Kelautan dan Perikanan

- Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

- Pengelolaan dan Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil

7

Depdagri dan Otoda

- PPK

- P2D

8

Pemberdayaan Perempuan

- Pemberdayaan Perempuan melalui pengembangan Ekonomi Lokal (P3EL)

9

BPS

- Evaluasi Metodologi Indikator Kemiskinan

- Perhitungan Penduduk Miskin Tingkat Regional Hasil Susenas 2002

10

BPN

- Pengelolaan Pertanahan (kegiatan restribusi tanah bagi petani penggarap)

Sumber: http://www.pustaka-deptan.go.id/publication/wr264045.pdf

 

Upaya yang dilakukan pemerintah yang trakhir yang berhubunga dengan cerita mengurangi kemiskinan ini adalah PNPM

 

Program-program Instansi/departemen memang cukup bagus, pertanyaan kemudian mengapa kemiskinan di Indonesia jumlahnya stabil, artinya pengurangannya tidak signifikan dengan program yang ada?

 

Garis Kemiskinan per Provinsi 2002-2003

 

Provinsi

2002

2003

Perkotaan

Perdesaan

Total

Perkotaan

Perdesaan

Total

NAD

-

-

-

137.44

104.855

123.998

Sumatera Utara

130.541

88.328

103.987

141.771

95.926

117.187

Sumatera Barat

145.763

109.991

122.506

155.936

117.667

137.095

Riau

139.229

119.983

124.746

178.016

134.202

168.391

Jambi

140.177

96.937

115.243

150.899

101.585

125.065

Sumatera Selatan

129.552

92.06

105.493

140.805

95.214

118.398

Bengkulu

126.861

87.883

101.437

135.203

96.461

110.975

Lampung

124.185

91.675

98.472

135.357

99.922

111.092

Bangka Belitung

143.535

118.812

127.862

152.916

122.758

144.233

DKI Jakarta

160.748

-

160.748

186.525

-

186.525

Jawa Barat

126.18

96.455

112.389

135.598

99.969

130.503

Jawa Tengah

121.461

97.31

106.438

130.809

103.7

119.403

DI Yogyakarta

123.903

103.012

112.995

137.132

106.801

127.089

Jawa Timur

123.399

96.962

106.777

131.594

112.855

121.695

Banten

139.547

93.81

111.591

148.552

107.311

126.214

Bali

145.65

118.463

130.586

158.415

130.668

141.179

Nusa Tenggara Barat

116.591

91.257

103.139

122.411

94.588

112.96

Nusa Tenggara Timur

119.989

82.828

86.993

130.433

87.018

97.387

Kalimantan Barat

138.275

92.644

105.783

147.779

96.429

112.664

Kalimantan Tengah

122.172

11.197

113.205

134.788

114.357

127.152

Kalimantan Selatan

131.347

84.65

98.596

141.407

94.969

114.151

Kalimantan Timur

147.659

136.809

139.434

163.815

145.46

156.491

Sulawesi Utara

127.214

108.133

111.178

147.151

115.686

134.202

Sulawesi Tengah

130.606

100.422

105.19

143.306

110.04

117.284

Sulawesi Selatan

120.189

87.522

91.937

127.597

98.946

106.765

Sulawesi Tenggara

120.698

97.168

99.376

128.687

104.199

108.405

Gorontalo

107.405

88.974

92.526

114.907

91.095

100.926

Maluku

-

-

-

135.425

120.03

128.43

Maluku Utara

-

-

-

129.442

91.734

117.355

Papua

-

-

-

154.905

119.568

125.065

Total

130.499

96.512

108.889

138.803

105.888

118.554

 

Sumber BPS 2003

 

Ada yang mengatakan gagalnya program mengurangi kemiskinan sebenarnya akibat misklasifikasi masalah kemiskinan. Misalnya daerah yang tidak membutuhkan pabrik justru dibangun pabrik sebagai program meminimalkan kemiskinan di wilayah tersebut, melalui pembangun pabrik ini, diharapkan akan menampung tenaga kerja lokal.

 

Logika seperti ini, memang logis tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Kenyatannya justru penduduk pendatang yang lebih banyak bekerja di pabrik tersebutnya, alasannya karena pabrik membutuhkan tenaga kerja yang trampil dengan pepabarikan, dan tenaga seperti ini tidak dimiliki oleh penduduk lokal. Termajinalkannya  penduduk lokal  adalah contoh program meminimalkan kemiskinan mengalami misklasifikasi.

 

7. Penutup

 

Menghapus kemiskinan, jelas tidak mungkin, yang mungkin adalah meminimalkan jumlah orang miskin, jauh  lebih rasional. Faktor membuat orang kemiskinan  dapat dibagi dua yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

 

Faktor eksternal bersumber dari luar diri seseorang tersebut, misalnya  konspirasi kelompok-kelompok elit,  secara tidak disadari pemarjinalan kelompok masyarakat-masyarakat tertentu, pelaksanaan pembangunan yang bersumber dari misklasifikasi. Sedangkan faktor internal adalah niat dari orang tersebut. Ada orang atau kelompok masyarakat yang memang mengutamakan unsur-unsur non metaerial sebagai sistem nilai pertama dalam dirinya, mislanya masyarakat Saminisme di Jawa.

 

Mempolitisasi segala bidang kehidupan kemasyarakatan, bukan berdampak mengurangi kemiskinan, tetapi justru berpotensi menambahi jumlah orang miskin. Ini sama saja dengan menjual kemiskinan orang lain untuk menghilangkan kemiskinan diri sendiri.

 

 

Pustaka

 

Ade Cahyat  Bagaimana kemiskinan diukur? Beberapa model penghitungan kemiskinan di Indonesia. Poverty & Decentralization Project CIFOR (Center for International Forestry Research) – BMZ (Bundesministerium für Wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung). Governance Brief. 7 November 2004. Number 2

Asian Development Bank (ADB). Juni 2005.  Meningkatkan Perjuangan Melawan Kemiskinan Di Asia Dan Pasifik Strategi Pengurangan Kemiskinan. Asian Development Bank.

Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006

Detik..com 01/09/2006

Draf Ringkasan – Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia Per 25 Agustus 2005

Harian Republika On Line 23 Maret 2007

Harian Sinar Indonesia Baru Medan.

http://www.pustaka-deptan.go.id

ELSAM. Indonesia Dalam Krisis Tidak Reformasi, Tanpa Hak Asasi Manusia. Human Rights Report Nomor: 02/1998. Jakarta, 30 April 1998.

Panduan Operasional Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPKD). 2005  

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. 2005. Kemiskinan Di Indonesia: Perkembangan Data dan Informasi Mutakhir

Wahid Institute

 

Penulis adalah Staf Pengajar FS USU Medan. Magister dengan Pengkhususan  Sistem Pengendalian Sosial.

 

 

 

TULISAN SEBELUMNYA

NO

JUDUL

THN/BLN/TGL

115

L A P A R

2009-01-18

114

BAHASA KARO DAN BAHASA BALI: SEBUAH PERBANDINGAN AWAL

2009-01-11

 

113

EVALUASI AKHIR TAHUN 2008

TERHADAP PENGAMAT-PENGAMAT

2009-01-04

 

112

JEJAK-JEJAK MASA LALU DARI SUMATERA BARAT

Dalam Foto

2008-12-28

 

111

LEMBAH NGARAI SI ANOK DILIHAT DARI LOKASI GOA JEPANG DI BUKIT TINGGI

TANGGAL 25 FEBRUARI 2008

2008-12-21

110

FOTO-FOTO DI SEKITAR JAM GADANG KOTA BUKIT TINGGI DI PAGI HARI TANGGAL 27 FEBRUARI 2008 

2008-12-14

109

FOTO ISTANA PAGARUYUNG YANG TERSISA PASCA KEBAKARAN 27 FEBRUARI 2007 DI KABUPATEN TANAH DATAR, SUMATRA BARAT

2008-12-07

 

108

TERPERANGKAP DALAM FAKTA: ANALISIS TERHADAP KERANGKA PIKIR MEMBUNUH ATAS NAMA TUHAN

 

Tulisan ini menganalisis alur pemikiran orang-orang yang melakukan pembunuhan sesama manusia dengan mengatasnamakan Tuhan.

2008-11-30

107

ATAS NAMA KERESAHAN

2008-11-22

106

PERUBAHAN DAN CEK KOSONG

2008-11-16

105

PEMEKARAN WILAYAH BEBAN BERAT BAGI LINGKUNGAN (?)

2008-11-09

104

SEPENGGAL DOA DEMI KEDAMAIAN KARENA PORNOGRAFI

2008-11-02

103

BUSYET

2008-10-26

102

PEMELIHARAAN BAHASA ETNIS DAN OTONOMI DAERAH

2008-10-19

 

101

MENGAPA RUPANYA

2008-10-12

 

100

GAK NYAMBUNG TJOI!

2008-10-05

 

099

KEINDAHAN TERBARU

2008-09-28

 

098

TUHAN, MANUSIA DAN UANG

2008-09-21

 

097

LOMBA LEBIH BERBOHONG

2008-09-14

 

096

UNIVERSAL

2008-09-07

 

095

KURANG GIZI DAN LAPAR TERSEMBUNYI

2008-08-31

 

094

PILKADA-PEMILU

2008-08-24

 

093

SASTRA, SENI DAN ESTETIKA

2008-08-17

 

092

BERTUHAN SECARA FAKTA DAN BERTUHAN SECARA FAKTUAL

2008-08-10

 

091

MOLEKUL PINTAR

2008-08-04

 

090

PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR UJIAN TIDAK DIIJINKAN, DIKEMBALIKAN KE INSTANSI PENGIRIM (ASAL) JUGA TIDAK DILAKUKAN UPDATE

2008-07-28

 

089

SASTRA (KESUSASTRAAN) SEBAGAI PRODUK BUDAYA (KEBUDAYAAN)

2008-07-22

 

088

PUISI: HANYA NAMA, CEK KOSONG, TIDAK LEBIH! DAN AKUPUN AKU MASIH SEPERTI YANG DULU

2008-07-14

 

087

PENGAJARAN TENTANG KETUHANAN ATAU KENABIAN?

SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN PENDIDIKAN/PENGAJARAN AGAMA

2008-07-07

 

086

DI BALIK 1000 NYALA LILIN

2008-06-23

 

085

N Y A P L I R

2008-06-16

 

084

DARI MALAIKAT KE  DOA MOHON KEHANCURAN AGAMA : DEKONSTRUKSI ATAS PANDANGAN KEAGAMAAN DALAM SASTRA INDONESIA

2008-06-09

 

083

PUISI: TETAP TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH

2008-06-02

 

082

PUISI: MONYET PADA ISI BERITA TV

2008-05-26

 

081

SASTRA DAN PRAGMATISME

2008-05-19

 

080

PUISI: BERTOBATLAH

2008-05-12

 

079

FILSAFAT DAN SASTRA

2008-05-05

 

078

PUISI: DI DALAM SEBUAH KAWASAN

2008-04-28

 

077

PUISI: UNTUNG BUNTUNG

2008-04-21

 

076

PENYAKIT DAN MEMILIH UPAYA CARA PENYEMBUHANNYA (2)

2008-04-14

 

075

PENYAKIT DAN MEMILIH UPAYA CARA PENYEMBUHANNYA (1)

2008-04-07

 

074

PUISI: MELAYANI DENGAN HATI TULUS

2008-04-01

 

073

KESESATAN

2008-03-24

 

072

SASTRA SEBAGAI SEBUAH DISIPLIN ILMU

2008-03-17

 

071

PUISI: RUMAH TUA

2008-03-10

 

070

PUISI: SETANGKAI BUNGA PLASTIK

2008-03-03

 

069

PUISI: MEMBACA TERBALIK

2008-02-18

 

068

SASTRA DAN ESTETIKA (2): MEMAHAMI KEINDAHAN PUISI

2008-02-11

 

067

UNDANG-UNDANG ALIRAN SESAT ATAU UNDANG-UNDANG YANG  BERLIRAN SESAT?

2008-02-04

 

066

SASTRA DAN ESTETIKA (1): PENGERTIAN KEINDAHAN

2008-01-29

 

065

KEINDAHAN

2008-01-21

 

064

KEMISKINAN GAYA BARU

2008-01-15

 

063

SASTRA SIBER

2008-01-07

 

062

PEMEKARAN WILAYAH DAN ANCAMAN PEMANASAN GLOBAL

2007-12-24

 

061

SASTRA EKSIL

2007-12-17

 

060

KONDISI KERJA DALAM “LINGKUNGAN” SAUDARA SEBANGSA

2007-12-10

 

059

FOTO-FOTO SISA KEJAYAAN PADANG PENGEMBALAAN KERBAU KELUARGA SEMBIRING BRAHMANA LIMANG 1

 

FOTO-FOTO SISA KEJAYAAN PADANG PENGEMBALAAN KERBAU KELUARGA SEMBIRING BRAHMANA LIMANG 2

 

 DI KABUPATEN KARO SUMATERA UTARA

2007-12-03

 

058

KEPADA MEREKA YANG TELAH TAHU JALAN KE SURGA

2007-11-26

 

057

SASTRA DAN POLITIK (2) PELARANGAN BUKU-BUKU SASTRA PADA MASA ORDE BARU (TRAGEDI SASTRA INDONESIA)

2007-11-19

 

056

PUISI : CERITA ORANG PINTAR

2007-11-12

 

055

SASTRA DAN POLITIK (1): ANUTAN ROHANI DAN KARYA SASTRA

2007-11-05

 

054

MEMAHAMI KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA DARI SISI  GAGASAN  DAN MATERIAL

2007-10-29

 

053

GEREJA DAN PEMBINAAN BAHASA (DI) INDONESIA

2007-10-22

 

052

SASTRA KONTEMPORER INDONESIA

2007-10-15

 

051

PUISI: GEMPA INDONESIA

2007-10-08

 

050

IRAMA GEDANG ITU BERNAMA STOLEN ASSET RECOVERY (StAR) INITIATIVE

2007-10-01

 

049

BENTUK DAN ALIRAN DALAM PUISI INDONESIA

2007-09-24

 

048

PUISI:  KETIK (SPASI) PEMBOHONG (SPASI) KAU

2007-09-17

 

047

SASTRAWAN INDONESIA DAN JAMANNYA

2007-09-10

 

046

PUISI: HANYA SATU KATA

2007-09-03

 

045

KESUSASTRAAN INDONESIA, KEBUDAYAAN DAN KAJIAN BUDAYA

2007-08-27

 

044

PUISI: TOPENG MONYET

2007-08-20

 

043

PUISI: HMM! NIKMATNYA BERBOHONG

2007-08-14

 

042

AGAMA DILECEHKAN: MENGAPA HARUS TERSINGGUNG?

2007-08-06

 

041

PUISI: AKU TIDAK MAU

2007-07-31

 

040

PUISI: CERITA KESEJAHTERAAN RAKYAT

2007-07-23

 

039

BILA SBY-JK GAGAL! LALU SIAPA YANG TIDAK GAGAL?

2007-07-18

 

038

PUISI: KKNK

2007-07-09

 

037

PUISI: INGATAN KEPADA SATU NAMA

2007-07-02

 

036

REFORMASI KUDA PUSING

2007-06-26

 

035

PUISI: MENANTI WALAU TIDAK PASTI

2007-06-18

 

034

PUISI: DI BALIK

2007-06-11

 

033

BUDAYA POLITIK DAN PELANGGARAN HAM

2007-06-06

 

032

PUISI : ACINTYA

2007-05-29

 

031

POLITIK UANG DALAM PILPRES-PILKADA DAN POLITIK UANG DALAM SMS BERHADIAH

2007-05-21

 

030

PUISI : BULAN MEI

2007-05-14

 

029

BERPINDAH AGAMA: MENGAPA DIPERSOALKAN?

2007-05-07

 

028

PUISI: SELEMBAR AMPLOP SURAT TERGELETAK DI TEPI JALAN BALAI KOTA MEDAN

2007-04-30

 

027

GADO-GADO DJAKARTA

2007-04-23

 

026

KOMUNISME! MENGAPA HARUS DITAKUTI: KASUS “PENGHADANGAN” PARTAI PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL (PAPERNAS)

2007-04-16

 

025

PUISI: KOTAKU PERAIH BERMACAM-MACAM

2007-04-09

 

024

KISAH “ORANG MEDAN” DAN GAYA MEDAN

2007-04-02

 

023

KONFLIK PEMINDAHAN IBUKOTA KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN: MENJADI IBUKOTA KABUPATEN, ADA PLUS MINUSNYA

2007-03-26

 

022

PUISI: PRODUK ITU …!

2007-03-20

 

021

PUISI: YOGYAKARTA 1989

2007-03-12

 

020

PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR: UJIAN TIDAK DIIJINKAN, DIKEMBALIKAN KE INSTANSI PENGIRIM (ASAL) JUGA TIDAK DILAKUKAN

2007-03-07

 

019

PUISI: KEPADA J (1)

2007-02-03

 

018

PUISI: BUDHA DI BOROBUDUR

2007-02-27

 

017

RIH PANJANG: PADANG PENGEMBALAAN KERBAU LIMANG TINGGAL KENANGAN

2007-02-19

 

016

TEMA-TEMA YANG MENGANDUNG OPOSISI BINER DALAM INJIL DAN AL QUR’AN

2007-01-15

 

015

KASUS PELANGGARAN HAM DI INDONESIA: PELAKSANAAN ANTARA  HAK DAN KEWAJIBAN TIDAK SEIRING SEJALAN ?

2006-12-11

 

014

“HANCURKAN ORDE BARU”

2006-12-04

 

013

MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO

2006-11-27

 

012

NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN
(KOMENTAR UNTUK BUNG FATIH 20/04/2008)

2006-11-21

 

011

PILKADA DAN PENCERAHAN

2006-11-13

 

010

ORDEBARU: MONOKULTURAL ATAU MULTIKULTURAL?

2006-11-06

 

009

PEMEKARAN WILAYAH: UNTUK KESEJAHTERAAN SIAPA?

2006-10-30

 

008

HAMA DALAM INDUSTRI PARIWISATA

2006-10-26

 

007

PERKAWINAN DALAM PANDANGAN BUDHA

2006-10-23

 

006

BUKAN HANYA TNI/POLRI, PNS AKTIF SEHARUSNYA JUGA TIDAK DIBERI HAK PILIH

2006-10-16

 

005

INDEPENDEN: NETRAL YANG AKAL-AKALAN

2006-10-16

 

004

TOTEM KLAN PADA MASYARAKAT KARO

2006-10-09

 

003

DALIKEN SI TELU DAN SOLUSI MASALAH SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO: KAJIAN SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL  (file pdf)

Library USU

 

002

SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL (file pdf)

Library USU

 

001

PROF. DR. I GUSTI NGURAH BAGUS DALAM INGATAN  

2006-09-29

 

DAFTAR YANG LAIN

 

KEGIATAN UTAMA PADA TAHUN AKADEMIK 2007

 

      MENGENAI TULISAN DI DALAM BLOG INI

 

 

 

Posted by Pertampilan S. Brahmana in 02:47:52 | Permalink | Comments Off