Monday, August 6, 2007

AGAMA DILECEHKAN: MENGAPA HARUS TERSINGGUNG?

AGAMA DILECEHKAN: MENGAPA HARUS TERSINGGUNG?

Oleh Pertampilan S. Brahmana

1. Pendahuluan

Ada beberapa teori atau pendapat yang menjelaskan asal mula agama dalam kehidupan manusia. Pertama teori yang dikemukakan oleh Tylor yang kemudian dikenal dengan nama teori Tylor. Menurut Tylor asal mula agama adalah kepercayaan manusia tentang adanya “jiwa”. Manusia menyadari adanya ‘jiwa’ atau ‘roh’ dikarenakan dua hal yaitu peristiwa hidup dan mati dan peristiwa mimpi. Kedua yang dikenal dengan teori Marett, menurut Marett pokok pangkal dari perilaku keagamaan bukanlah keper-cayaan terhadap roh-roh halus, melainkan timbul karena perasaan rendah diri manusia terhadap berbagai gejala dan peristiwa yang dialami manusia dalam hidupnya. Ketiga teori Frazer, menurut Frazer manusia dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupannya dengan menggunakan akal dan sistem pengetahuan. Akal manusia itu terbatas, semakin rendah budaya manusia semakin kecil dan terbatas kemampuan akal dan pikiran dan pengetahuannya, dikarenakan ketidakmampuannya dalam menggunakan akal dan pikirannya untuk memecahkan permasalahan ini, maka manusia menggunakan “magic”. Namun karena dengan “magic” pun ternyata tidak mampu mengatasi masalah yang berada di luar batas kemampuan akalnya, maka mulailah manusia percaya bahwa alam semesta ini didiami oleh para makhluk halus, roh-roh halus yang lebih berkuasa daripada manusia sendiri. Seterusnya manusia mulai mencari hubungan dengan mahluk-mahluk halus tersebut, sehingga dengan demikian timbullah agama (relegi). Keempat teori Schmidt, menurut Schmidt bahwa ‘monotheisme’ kepercayaan terhadap adanya satu Tuhan, sesungguhnya bukan penemuan baru tetapi sudah ada sejak dahulu kala. Bahwa diberbagai suku bangsa sudah ada kepercayaan terhadap adanya satu Dewa yang merupakan dan dianggap dewa tertinggi yang mencipta alam semesta dan seluruh isinya, serta sebagai penjaga ketertiban alam dan kesusilaan. Kelima teori Durkheim, menurut Durkheim, pada masyarakat yang masih sederhana tingkat budayanya belum mungkin dapat menyadari dan memahami tentang Jiwa yang berada dalam tubuh manusia yang hidup dan jiwa yang sudah lepas dari tubuh menjadi roh-roh halus dari orang yang sudah mati (Hadikusuma, 1993)

Kemudian, apa tujuan manusia agama? Menurut Harjana (1993:14-22) tujuan manusia beragama adalah,

NO

TUJUAN MANUSIA BERAGAMA

1

Untuk Mendapatkan keamanan

2

Mencari perlindungan dalam hidup

3

Menemukan penjelasan atas dunia dan hidup serta segala yang termaktub di dalamnya

4

Memperoleh pembenaran atas praktik-praktik hidup yang ada

5

Meneguhkan tata nilai yang sudah mengakar di dalam masyarakat

6

Memuaskan kerinduan hidup

Menurut ajaran agama Hindu (Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. 1993) yaitu

TUJUAN MANUSIA BERAGAMA

Untuk menuntun manusia mendapatkan kesejahteraan phisik material (jagadhita) dan kesejahteraan mental spiritual (moksha). Untuk mewujudkan tujuan tersebut, agama Hindu pun mengajarkan tujuan hidup sebagai umat Hindu. Tujuan hidup menurut agama Hindu ada empat yang disebut Catur Purusartha. Empat tujuan tersebut adalah dharma (segala yang mendukung manusia untuk mendapatkan “kerahayuan” dalam wujud kesejahteraan, rasa aman lahir dan bathin; artha yaitu alat atau benda untuk memenuhi kama (nafsu) dan alat pula melaksanakan darma, artha untuk memenuhi naluri memberi kenikmatan dan kebutuhan hidup yang berpengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan hidup, untuk mencapai kebahagian, kemakmuran dan kesentosoaan masyarakat umat manusia dan sesama mahluk; kama (keinginan, hasrat atau nafsu) adalah kenyataan yang berada pada setiap manusia. Dari keinginan ini lahir harapan hidup; dan moksa, moksa adalah kebahagian rohani yang tertinggi, bersatunya Atma dengan Brahman

Masalah kemudian, ketika terjadi ketersinggungan umat beragama atas dugaan pelecehan terhadap agama yang dianutnya oleh pihak lain. Kasus ini walau bukan masalah baru, tetapi dampaknya yang kita saksikan selama ini, eksistensi kuasa Tuhan kemudian di framing-amputasi (bingkai-dikerdilkan) reaksi atas ketersinggungan tersebit, reaksi bervariasi mulai dari demonstrasi sampai kepada perusakan atas material si peleceh.

2. Kasus Pelecahan Agama Beserta Simbolnya

Kasus pelecehan terhadap agama dan symbol-simbolnya bukanlah peristiwa yang baru. Kasus sering terjadi dan berulang. Pelecehan ini bukan saja hanya terhadap satu kelompok agama saja, tetapi terhadap banyak agama, di lokasi yang berbeda (Negara, wilayah).

2.1 Islam

Pelecehan terhadap agama Islam di negara Barat sejak tahun 2000 adalah sebagai berikut:

Tahun

Kejadian

Nov 2000

harian Kanada, Kalaghory Shin memuat artikel yang di dalamnya menuduh bahwa Islam adalah agama yang khusus untuk membunuh orang-orang Yahudi.

Okt 2002

Partur Garry Falweel, salah seorang pendeta terkenal di kelompok Baptis (salah satu aliran di gereja Protestan), dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun televisi Amerika mengatakan,”Muhammad adalah seorang bringas dan suka perang.”

Jan 2003

dijual stiker-stiker yang menyerupakan Islam dengan Nazi pada muktamar kaum konservatif yang dibuka langsung oleh deputi presiden Amerika

Nov 2003

Prancis meningkatkan kampanye pelarangan jilbab Islami di sekolah-sekolah dan tempat-tempat kerja.

Jan 2004

anggota Partai Nasional Inggris, Nick Gryfen, menyebut Islam sebagai ”ideologi yang rusak”, tidak layak untuk mendapatkan tempat bagi kompromi penting di dalam masyarakat yang bebas dan tidak sesuai dengan demokrasi.

Juli 2004

para tahanan Arab dan Muslim di Guantanamo yang telah dibebaskan mulai mengungkapkan tentang perilaku pelecehan terhadap Islam berupa perobekan dan penodaan (pengotoran) terhadap kitab suci Alquran oleh para serdadu Amerika di penjara yang terkenal tersebut.

Nov 2004

sebuah film karya seorang Belanda, Van Gogh, menuduh Islam sebagai agama yang menindas wanita.

Mei 2005

seorang penyiar radio di Washington, Michel Graham, menyebut Islam sebagai kelompok teroris dan kini dalam kondisi perang dengan Amerika Serikat, untuk itu layak dilakukan serangan senjara nuklir ke Makkah Al-Mukarramah.

Juli 2005

tokoh komedi Amerika, Jacky Mison, di dalam acara yang dipandu seorang penyiar Jime Bohanon, melecehkan Islam dan menyebutnya sebagai organisasi yang mendorong pembunuhan, kebencian, dan terorisme.

Sep 2005

harian Denmark, Jyllands-Posten, memuat gambar kartun yang melecehkan Rasulullah SAW

Nov 2005

serangan terhadap masjid di Wina Austria.

Des 2005

seorang penyiar Radio Chicago, Amerika, Powell Harvey menyebut Islam sebagai agama yang mendorong kepada aksi pembunuhan.

Jan 2006

harian Norwegia kembali memuat gambar karikatur yang mengambarkan Rasulullah SAW dengan penggambaran yang tidak layak, dengan dalih kebebasan berekspresi (freedom of expression) atau freedom of speech.

Jan 2006

penyiar televisi dari jaringan televisi kabel MSNBC, Bill Handel, mengolok-olok kaum Muslimin soal peristiwa Mina, dan menyebut mereka sebagai para pembegal jalanan.

10 Jan 2006

majalah Kristen Norwegia, Magazinet, kembali memuat gambar yang pernah dimuat harian Denmark dan meminta maaf setelah itu.

Jan 2006

perusahaan-perusahaan jaringan mencetak gambar pelecehan terhadap Rasulullah SAW yang mengenakan kaos dan diedarkan ke seluruh dunia dengan harga yang sangat murah agar dipakai banyak orang –baik dengan sengaja maupun tidak sadar

Sumber

Harian Republika, 13 Februari 2006

Pelecehan yang terjadi bukan saja terhadap Islam di luar Indonesia. Di dalam Negara Indonesia, juga terjadi pelecehan terhadap agama tertentu. Kasus di dalam negeri Indonesia misalnya kasus Tabloit Monitor pada pada bulan Oktober 1990 dan Majalah Senang terbitan No. 34, 21 September – 4 Oktober 1990, yang dinilai melecehkan agama Islam. Tabloit Monitor menjadi kasus karena memuat angket yang menempatkan Nabi Muhammad SAW, pada peringkat 11, di bawah sejumlah artis, pejabat, politikus, bahkan di bawah Arswendo sendiri. Sedangkan majalah Senang memuat rekaan gambar Nabi Muhammad SAW, sesuatu yang ditabukan dalam umat Islam (Tempo, 10 November 1990). Kejadian ini dianggap sebagai pelecehan atas nabi Muhammad SAW.

2.2 Hindu

Agama Hindu juga tidak terlepas dari pelecehan. Kasus AM Saefuddin, oleh Umat Hindu dianggap melecehkan Agama Hindu. Menurut Putu Wirata Dwikora, dalam 10 sampai 15 tahun belakangan ini, pemanfaatan simbol-simbol serta ikon-ikon Bali dan Hindu untuk memperkaya ciptaan kreatif memang cukup sering kesandung protes. Misalnya, kasus canang mesesari bola golf di tabloid BaliKini, videoklip roker Saigon Kick yang juga mendapat protes dan dianggap melecehkan meru karena sang artis tampak “seakan-akan’’ menari-nari di atas pucuk meru (Kompas, 20 Juni 2004).

Beberapa kasus tersebut antara lain kasus AM Saefuddin. Pada harian Republika, Suara Indonesia dan Merdeka, AM Saefuddin (Menpangan dan Hortikultura masa Kabinet Habibie), memuat pernyataan, seperti yang dikutip di Republika (15/10), bahwa dia (A.M Saefuddin) mengaku bisa mengungguli Megawati karena alasan agama. Menurut AM Saefuddin, Mega pernah sembahyang ke pura, sedangkan dirinya salat di masjid. ”Dia kan agamanya Hindu. Saya Islam. Relakah rakyat Indonesia presidennya beragama Hindu,” katanya seperti dikutip Republika (Balipost, Sabtu, 17 Oktober 1998). Pernyataan AM Saefuddin langsung menimbulkan protes di seluruh Bali.

Kasus berikutnya adalah kasus merek motor Awatara 100. Penggunaan nama ini dinilai melecehkan dewa-dewa yang sangat disucikan dalam agama Hindu (Kompas, 18 Januari 2001).

Tayangan sinetron Angling Dharma di Indosiar sekitar Januari 2002. Organisasi Forum Pecinta Kerukunan Hidup Beragama (FPKUB) yang dimotori sejumlah organisasi mahasiswa Hindu menilai tayangan sinetron ini mendiskreditkan Hindu. FPKUB sempat menduduki stasiun relai Indosiar di Bukit Bakung Bali sebagai tanda protes kepada stasiun Indosiar yang menayangkan sinetron ini.

Kasus novel Supernova 2 karya Dewi Dee Lestari yang menggunakan aksara suci sehingga Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD) melakukan protes. Akhirnya Dee minta maaf dan berjanji mengganti sampul depan novelnya untuk cetakan berikutnya.

Kasus canang masesari dua bola golf di majalah Bali Kini, juga dianggap melecehkan HIndu. Kasus ini sempat dibawa ke meja hijau, pelakunya dituduh melakukan pelecehan divonis dengan hukuman percobaan.

Pemakaian tato `Ongkara` di bagian pantat seorang turis asing di Buleleng pada tahun 2001 dan dipusar seorang Artis. Kasus majalah Liberty edisi No. 2171 tanggal 1-10 September 2003 memuat foto artis Wien Aditya Estaves yang memamerkan tato Ongkara di bagian pusarnya

Pelecehan dalam bentuk lain adalah perusakan Pura di Pulau Bali. Perusakan Pura ini dilakukan oleh kelompok yang tidak dikenal.

Beberapa Pura yang dirusak adalah sebagai berikut:

Nama Pura

Lokasi

Keterangan

Sumber

Kati Gajah

Tuban

Dirusak

Balipost, 20/01/2005, Media Indonesia, 22/01/2005

Pura Penataran

Kedonganan

Dirusak

Balipost, 20/01/2005, Media Indonesia, 22/01/2005

Pura keluarga di Temacun

Legian

Dirusak

Balipost, 20/012005, Media Indonesia, 22/01/2005

Pura Lobong

Legian

Dirusak

Balipost, 20/01/2005, Media Indonesia, 22/01/2005

Pura Dalem Kahyangan

Legian

Dirusak

Balipost, 20/01/2005, Media Indonesia, 22/01/2005

Pura Dalem

Legian

Dirusak

Balipost, 22 Januari 2005

Pura Puseh,

Kuta.

dirusak

Balipost, 22 Januari 2005

Pura Desa,

Kuta.

Dirusak

Balipost, 22 Januari 2005

Pura Segara

Kuta.

Dirusak

Balipost, 22 Januari 2005

Pura Penyarikan

Kuta.

dirusak

Balipost, 22 Januari 2005

Pura Pengorengan (Pura Dadia)

Kedonganan.

Dirusak

Balipost, 22 Januari 2005

Pura Dalem Kedonganan

Kedonganan.

Dirusak

Balipost, 22 Januari 2005

Selain perusakan juga goresan (Jejas) misterius baik pura maupun palinggih pribadi di Bali. Hingga 20/02/2005 warga Hindu Bali telah menemukan, sekitar 35 rumah mrajannya ‘mendapat’ goresan misterius ini. Selain itu puluhan palinggih kena colekan yang sama misalnya di Pura Dalem Batuyang, Pura Sunia Loka, Pura Jagapati, Pura Padma Banjar dan Pura Sapu Jagat. Pelacakan colekan pamor ini juga melibatkan unsur prajuru dinas, adat serta unsur Camat Blahbatuh. (NUSA Minggu, 20 Februari 2005)

Kasus perusakan Pura dan goresan ini, memang sangat-sangat membingungkan, karena dilakukan dijantung pusat umat Hindu itu sendiri Bali. Umat Hindu di Bali benar-benar kecolongan dalam kasus ini.

2.3 Kristen

Sedangkan pelecehan terhadap simbol-simbol Kristen, berupa perusakan, penghancuran, pembakaran gereja, pelarangan, penutupan rumah ibadah, dan bangunan milik umat Kristen selama Orde Reformasi, ternyata lebih banyak bila dibandingkan semasa Orde Baru.

Masa

Periode

Jumlah Tahun

Jumlah Kasus

Rata2 kasus/ Tahun

Orde Baru

7 Maret 1967 s/d 21 Mei 1998

31

456

14,70

Orde Reformasi (Habibie + Gus Dur)

22 Mei 1998 s/d 31 Januari 2001

3

367

122.33

Sumber: dari berbagai Sumber

Selama Orde Baru berkuasa lebih kurang 31 tahun, pelecehan berupa perusakan, penghancuran, pembakaran gereja, pelarangan, penutupan rumah ibadah, dan bangunan milik umat Kristen terjadi 456 kali, rata-rata kasus pertahun antara 14-15 kasus. Tiga tahun pertama Orde Reformasi berkuasa pelecehan berupa, perusakan, penghancuran, pembakaran gereja, pelarangan, penutupan rumah ibadah, dan bangunan milik umat Kristen 367 kali, rata-rata kasus pertahun antara 122-123. Terjadi peningkatan pelecehan yang luar biasa.

Contoh trakhir pelecehan agama ini adalah kasus davini vici, oleh kalangan pengikut katolik, filem ini dianggap merendahkan orang suci di dalam agama katolik.

3. Bentuk-Bentuk Pelecehan Agama

Bagaimana bentuk-bentuk pelecahan? Setidak-tidaknya ada 5 variasi yang dianggap sebagai pelecehan.

1

Perusakan Material

Perusakan, Pemboman Gereja, Perusakan Pura di Bali oleh orang yang tidak dikenal.

2

Penghinaan Simbol

Simbol-simbol Suci Dalam Agama Hindu Ongkara, dijadikan seni tatto.

Logo album Laskar Cinta oleh Grup Musik Dewa.

Gambar pada novel Dewi Lestari cetakan pertama, dianggap menghina Hindu oleh umat Hindu.

Pengkoyakan, pembakaran terhadap kkitab suci yang pernah terjadi.

3

Penghinaan Nabi

Adegan Yesus Minum Coca-Cola di Film Italia yang berjudul “Seven Miles from Jerusalem”. (SIB, 6 April 2007).

Visualisasi Nabi Muhammad seperti yang dilakukan oleh harian Denmark, Jyllands-Posten.

4

Penghinaan Ritual

VCD SARA yang berisi kegiatan training doa yang digelar sebuah kelompok bernama Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Wilayah Jatilara di sebuah hotel di Kota Batu, 17-21 Desember 2006. para peserta training doa mengenakan pakaian muslim tetapi menyanyikan lagu nasrani. Diperlihatkan juga seorang pendeta yang sedang membaca doa sementara peserta lainnya menangis. (Waspada 11 Apr 2007, Koran Sindo, 31/03/2007, Detikcom, 10/04/2007).

Penggenggaman Roti Hosti perayaan pesta Kristus Raja Alam Semesta di ibu kota Kabupaten Belu. di NTT. (Majalah Berita Mingguan Gatra 9 Desember 1995).

5

Nikah Beda Agama

Antara lain seperti yang dilakukan Ratna Ani Lestari Bupati Banyuwangi yang menang dalam Pilkada di Banyuwangi Jawa Timur Juni 2005. Ratna Ani Lestari juga adalah istri Bupati Jembrana Gde Winasa, Hindu (Propinsi Bali). Pernikahan seperti ini dipersoalkan karena jabatan yang diemban Ratna Ani Lestari. Sebab banyak yang nikah beda agama seperti yang dilakukan oleh Ratna Ani Lestari tidak dipermasalahkan.

4. Mengapa Harus Tersinggung, Marah dan Balas Dendam?

Pertanyaan kemudian, perlukah kita tersinggung dengan kasus-kasus pelecehan tersebut di atas? Jawabnya perlu kalau terjadi perusakan, atau penghancuran secara material. Bila kondisi seperti ini wajar semua tersinggung dan wajib melaporkannya kepada pihak keamanan, karena yang dirusak, dibakar adalah material adalah bagian dari hasil kerja umat, jemaat, atau sedharma membangunnya yang mungkin material ini hasil kerja umat, jemaat, atau sedharma selama bertahun-tahun, dihancur dalam seketika gara-gara melalui pembakaran atau perusakan, sehingga tidak dapat dilakukan untuk bersembahyang, beribadat.

Penghinaan simbol, penghinaan melalui ritual, pernikahan beda agama model kasus Ratna Ani Lestari (kalau memang ini dianggap bagian dari pelecehan) seharusnya kita tidak perlu tersinggung, sebab tidak ada perusakan material di sana. Masalah pelecehan seperti ini serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab dalam AL-KITAB dan AL-QUR’AN dinyatakan bahwa Tuhan adalah Yang Maha Esa, adalah Yang Maha Kuasa. Seharusnya melalui kesadaran seperti ini kita sebagai manusia, sadar, bukan membingkai-mengkerdilkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan melakukan tindakan-tindakan material yang destruktif. Serahkan saja kepada Tuhan si pemilik symbol, melalui kekuasaannya tersebutlah kelak para pelaku pelecehan itu menerima hukumannya, soal kapan itu terjadi serahkan saja kepada si pemilik langit dan bumi ini.

Allah Maha Kuasa

AL-KITAB

AL-QUR’AN

Yeremia 32: 17-18

17. Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!

18. Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu-ribu orang dan yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang datang kemudian. Ya Allah yang besar dan perkasa, nama-Mu adalah TUHAN semesta alam.

Ali Imran: 189

kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.

Keluaran 6: 2

Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.

Al-Baqarah: 164

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Dalam Yeremia 32: 17-18, dan Keluaran 6: 2 (Kristen), Ali Imran: 189, dan Al-Baqarah: 164 (Islam) jelas menyebutkan Tuhan Maha Kuasa. Sebagai Yang Maha Esa, tentu DIA berkuasa atas segala ciptaannya. Mengapa kita tersinggung, marah dan balas dendam kepada orang lain yang melecehkannya?

Serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Esa menghukum mereka yang melecehkan Tuhan beserta simbol-simbolnya tersebut. Kalau Tuhan Yang Maha Esa belum seketika menghukum mereka, mungkin masih ada rencana Tuhan yang lain terhadap mereka. Maka untuk itu mengapa kita harus marah, dendam, mengamuk kepada para peleceh tersebut? Mengapa kita tidak berpikir rasional saja dalam hal ini.

5. Penutup

Pelecahan atas agama tetap akan semakin banyak terjadi di masa depan. Semakin garang, keras pengikut agama tertentu memprotes pelecahan yang dilakukan terhadap agama tertentu, semakin senang, semakin berulang pelecahan itu dilakukan. Tujuannya bervariasi, mulai dari bagian dari kesenangan kelompok tertentu, sampai mengukur, mempermaikan emosi para pengikut agama tertentu tersebut.

Bahkan dapat dimaknai sebagai sarana membenturkan rakyat dengan pemerintahannya. Kasus Harian Jyllands Posten di Denmark adalah contoh. Reaksi atas pemuatan karikatur Nabi Muhammad di beberapa negara, akhirnya membenturkan rakyat di suatu Negara dengan penguasa negaranya.

Makna lain atas reaksi yang dilakukan, untuk “menghancurkan” si peleceh Tuhan Yang Maha Esa, oleh mereka yang merasa mewakili Tuhan, walau Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah memberikan mandat kepada mereka memberi citra bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak berdaya. Ini menunjukkan bahwa kekuasaah Tuhan Yang Maha Esa sedangkan kita bingkai kearah kerdilisme suatu sikap yang bertentangan dengan makna Yeremia 32: 17-18, Keluaran 6: 2 (Kristen), Ali Imran: 189, dan Al-Baqarah: 164 (Islam) tersebut di atas.

Maka kalau ada pihak-pihak tertentu ingin membesar-besarkan kasus-kasus pelecehan di atas agar menjadi besar, misalnya agar masyarakat saling bertikai, agar bisa menjadi seperti kasus Ambon, atau Poso, itu menandakan orang tersebut sedang mencari keuntungan material (duniawi) (uang, politik, citra) untuk kepentingan dirinya atas nama Tuhan. Padahal Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah memberikan mandat kepada mereka, apalagi sampai merusak ciptaan Tuhan tersebut (kebhinekaan yang ada). Masyarakat yang bertikailah yang hendak dijadikannya kuda tunggangannya untuk meraih materialisme duniawi tersebut.

Referensi

Al Quran Online

Alkitab Online

Balipost, 17 Oktober 1998

Balipost, 20/01/2005,

Detikcom, 10/04/2007).

GATRA 9 Desember 1995

Hadikusuma, Hilman. 1993. Antropologi Agama I. Pt. Citra Aditia Bakti.

http://www.christianpost.co.id/archive.htm?mcat=missions&scat=persecution

http://www.indosiar.com/welcome/forum/topic.asp?TOPIC_ID=16479

http://www.pdat.co.id/hg/political_pdat/2005/08/31/pol,20050831-01,id.html

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/26/index.html

Kompas, 18 Januari 2001

Kompas, 20 Juni 2004

Koran Sindo, 31/03/2007,

Media Indonesia, 22/01/2005

NUSA Minggu, 20 Februari 2005

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. 1993. Pedoman Pembinaan Umat Hindu Dharma Indonesia. Bali: PT. Upada Sastra.

Republika, 13 Februari 2006

Tempo, 10 November 1990

Waspada 11 Apr 2007,

Penulis adalah Magister Kajian Budaya dengan Pengkhususan Sistem Pengendalian Sosial, Staf Pengajar Pada Fak. Sastra Universitas Sumatera Utara Medan. (kawarmedan@yahoo.com)

===================================================

Bagi yang berminat mempublikasikan tulisan ini dalam bentuk cetak, silahkan. Sebagai imbalannya, bila sudah terbit, mohon dikirimkan nomor bukti sebanyak 3 eks untuk arsip dan kepentingan pekerjaan saya.

Nomor bukti dapat dikirimkan ke alamat:

Drs. Pertampilan S. Brahmana, M.Si

Jl. Setia Budi No. 2 Sei Sikambing B Medan 20122.

Sumatera Utara.

TULISAN SEBELUMNYA

PUISI: AKU TIDAK MAU

31-07-2007

PUISI: CERITA KESEJAHTERAAN RAKYAT

23-07-2007

BILA SBY-JK GAGAL! LALU SIAPA YANG TIDAK GAGAL?

18-07-2007

PUISI: KKNK

09-07-2007

PUISI: INGATAN KEPADA SATU NAMA

02-07-2007

REFORMASI KUDA PUSING

26-06-2007

PUISI: MENANTI WALAU TIDAK PASTI

18-06-2007

PUISI: DI BALIK

11-06-2007

BUDAYA POLITIK DAN PELANGGARAN HAM

06-06-2007

PUISI : ACINTYA

29-05-2007

POLITIK UANG DALAM PILPRES-PILKADA DAN POLITIK UANG DALAM SMS BERHADIAH

21-05-2007

PUISI : BULAN MEI

14-05-2007

BERPINDAH AGAMA: MENGAPA DIPERSOALKAN?

07-05-2007

PUISI: SELEMBAR AMPLOP SURAT TERGELETAK PUISI: DI TEPI JALAN BALAI KOTA MEDAN

30-04-2007

GADO-GADO DJAKARTA

23-04-2007

KOMUNISME! MENGAPA HARUS DITAKUTI: KASUS “PENGHADANGAN” PARTAI PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL (PAPERNAS)

16-04-2007

PUISI: KOTAKU PERAIH BERMACAM-MACAM

09-04-2007

KISAH “ORANG MEDAN” DAN GAYA MEDAN

02-04-2007

KONFLIK PEMINDAHAN IBUKOTA KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN: MENJADI IBUKOTA KABUPATEN, ADA PLUS MINUSNYA

26-03-2007

PUISI: PRODUK ITU …!

20-03-2007

PUISI: YOGYAKARTA 1989

12-03-2007

PENGALAMAN TUGAS BELAJAR DI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR: UJIAN TIDAK DIIJINKAN, DIKEMBALIKAN KE INSTANSI PENGIRIM (ASAL) JUGA TIDAK DILAKUKAN

07-03-2007

PUISI: KEPADA J (1)

03-05-2007

PUISI: BUDHA DI BOROBUDUR

27-02-2007

RIH PANJANG: PADANG PENGEMBALAAN KERBAU LIMANG TINGGAL KENANGAN

19-02-2007

TEMA-TEMA YANG MENGANDUNG OPOSISI BINER DALAM INJIL DAN AL QUR’AN

15-01-2007

KASUS PELANGGARAN HAM DI INDONESIA: PELAKSANAAN ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN TIDAK SEIRING SEJALAN ?

11-12-2006

“HANCURKAN ORDE BARU”

04-12-2006

MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO

27-11-2006

NEGARA KEBANGSAAN DISODOK SYARIAT TUHAN

21-11-2006

PILKADA DAN PENCERAHAN

13-11-2006

ORDEBARU: MONOKULTURAL ATAU MULTIKULTURAL?

06-11-2006

PEMEKARAN WILAYAH: UNTUK KESEJAHTERAAN SIAPA?

30-10-2006

HAMA DALAM INDUSTRI PARIWISATA

26-10-2006

PERKAWINAN DALAM PANDANGAN BUDHA

23-10-2006

BUKAN HANYA TNI/POLRI, PNS AKTIF SEHARUSNYA JUGA TIDAK DIBERI HAK PILIH

16-10-2006

INDEPENDEN: NETRAL YANG AKAL-AKALAN

16-10-2006

TOTEM KLAN PADA MASYARAKAT KARO

09-10-2006

DALIKEN SI TELU DAN SOLUSI MASALAH SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO: KAJIAN SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL (file pdf)

Library USU

SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL (file pdf)

Library USU

PROF. DR. I GUSTI NGURAH BAGUS DALAM INGATAN

29-09-2006

DAFTAR YANG LAIN

19-12-2006

Posted by Pertampilan S. Brahmana in 03:15:14 | Permalink | Comments Off