RIH PANJANG: PADANG PENGEMBALAAN KERBAU LIMANG TINGGAL KENANGAN
RIH PANJANG: PADANG PENGEMBALAAN KERBAU LIMANG TINGGAL KENANGAN
Oleh Pertampilan S. Brahmana
1. Pendahuluan
Limang adalah salah satu desa dari 18 desa yang ,masuk ke dalam administrasi Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo Sumatera Utara. Desa lain yang masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Tigabinanga adalah Simpang, Pergendangen/ Perlamben, Pergendangen, Lau Kapur, Kem Kem , Gunung, Tigabinanga (menjadi Ibukota Kecamatan), Kuta Galoh, Kuta Raya, Pertumbuken, Kuala, Kuta Buara, Simolap, Kuta Bangun, Sukajulu, Kutambaru Punti, Kuta Gerat, Bunga Baru, dan Perbesi (Sumber Sensus Ekonomi 2006).
Jarak Desa Limang dari kota Medan lebih kurang 3-4 jam perjalanan bila naik bus umum atau 2,5-3 jam perjalanan bila naik mobil pribadi.
Data BPS tahun 2003 jumlah keluarga di desa ini, sebanyak 254 kk, dan jumlah bangunan rumah 238 unit. Data BPS tahun 2003 ini juga mengungkapkan rumah tangga prasejahtera sebanyak 115 kk, nomor 3 terbesar setelah Kuta Bangun 124 kk dan Tigabinanga 154 kk untuk kecamatan Tigabinanga.
Hasil sensus ekonomi tahun 2006, sarana kesehatan di desa ini hanya ada 1 (satu) yaitu polindes. Bila masyarakat desa sakit, mereka dapat berobat ke Desa Perbesi sebab di Desa ini ada Puskesmas. Jaraknya 6 kilometer. Atau ke Ibukota Kecamatan Tigabinga jaraknya lebih kurang 10 km. Di ibukota kecamatan ini ada Rumah Sakit, Rumah Sakit Bersalin, ada Poliklinik, ada Puskesmas, ada Praktek Dokter, ada Praktek Bidan, ada Apotik dan sarana kesehatan lainnya (Sumber Sensus Ekonomi 2006).
Di desa ini hanya 1 SD Inpres (SDN NP.044863). Bila anak desa ini ingin melanjut ke SMP, dia dapat melanjut ke SLTPN 2 TIGA BINANGA yang terletak di Desa PERBESI (lebih kurang 8 km dari Limang), atau ke Ibukota kecamatan TIGA BINANGA atau ke Ibukota Kabupaten Kabanjahe. Bahkan ke Medan.
Hasil pertanian utama dari desa ini saat ini adalah Jagung.
2. Limang Dan Akhir Padang Pengembalaan Kerbaunya.
2.1 Asal Nama Limang
Kuta (Desa) Limang didirikan oleh marga Sembiring Brahmana sekitar tahun 1650-1700. Perhitungan ini didasarkan kepada generasi keempat dari Singian Sampalen yaitu Mangasi Sembiring Brahmana (1841 – 1923) dan Mbelting Sembiring Brahmana (1843 – 1924).
Menurut ceritanya, Limang berasal dari kata “lima” yang merujuk Marga Brahmana di desa Limang terdiri dari 5 bersaudara, yang dalam bahasa Karo diucapkan menjadi “lima ng”. Pengucapan ini kemudian berubah menjadi Limang kini berubah menjadi nama Kuta (Desa). Sebelumnya nama Kuta (Desa) ini adalah Kuta Male (Darwan Prinst. 1996).
Kelima bersaudara ini menurut Dawin Prints adalah para keturunan dari Singian Sampalen. Singian Sampalen inilah yang pendiri Kuta Limang.
Pertanyaan kemudian apakah ada hubungan kata Limang dalam bahasa Karo dengan kata Limang dalam bahasa Filipina, atau bahasa Jawa atau Bali, maupun nama jalan Limang Ube di Desa Telang Siong, Kecamatan Dusun Timur, Barito Timur, Propinsi Kalimantan Tengah, mungkin perlu penelitian tersendiri khususnya dari segi asal usul bahasa. Hal ini karena dengan mengambil contoh bahasa Bali, antara bahasa Karo dengan bahasa Bali ditemukan banyak persamaan makna kata. Padahal antara masyarakat Karo dan masyarakat Bali, secara gerografis saling berjauhan. Masyarakat Karo berlokasi di ujung Utara Indonesia (Propinsi Sumatera Utara) dan masyarakat Bali terletak di tengah Indonesia (Indonesia Bagian Timur). Kedua masyarakat ini diantari dengan pulau Jawa. Kalau bahasa Karo, banyak persamaannya dengan bahasa Toba, atau bahasa Pakpak Dairi, bahasa Simalungun wajar-wajar saja sebab wilayahnya berdekatan, wilayahnya juga bertetangga dan berada dalam satu Propinsi. Hal yang berbeda dengan bahasa Bali. Maka hal yang sama bukan tidak mungkin juga terjadi dengan bahasa etnik yang lain.
Beberapa contoh bahasa Karo dan Bali yang sama atau mendekati maknanya adalah sebagai berikut:
Beberapa contoh bahasa Karo dan Bali yang sama atau mendekati maknanya adalah sebagai berikut:
Bahasa Karo dan Bali |
Artinya (Dalam Bahasa Indonesia) |
bangke |
Bangkai |
bapa |
ayah (istilah Bapa pada masy. Bali hanya digunakan golongan tertentu) |
bedil |
Senjata |
belat |
sekat |
dakep |
peluk (karo), tangkap (bali) |
daksina |
selatan |
dingding |
dinding |
dukut |
rumput |
getep/getap |
potong |
gim |
akhir dari permainan |
inem |
minum |
inget |
ingat |
jelma |
orang |
jemak |
pegang (Karo), ambil (Bali) |
jukjuk |
menjolok |
kacip |
jepit |
lateng |
jelatang |
matah |
mentah |
mulih |
pulang |
tasak |
masak |
telu |
tiga |
Data Ini Penulis Inventarisasi Pada Tahun 1996-1998 |
|
Ini adalah beberapa contoh. Masih banyak yang lain. Maka berdasarkan adanya pengaruh ini, tampaknya perlu diteliti lebih lanjut apakah kata-kata bahasa Karo dan Bali yang sama penulisannya, sama atau mendekati maknanya berasal dari sumber yang sama pula.
2.2 Beberapa keturunan Pemilik Padang Pengembalaan Kerbau
Pemilik Padang Pengembalaan Kerbau adalah Mangasi Sembiring Brahmana (1841 – 1923) dan Mbelting Sembiring Brahmana (1843 – 1924), keduanya abang adik (Perdamen Brahmana).
Beberapa keturunan mereka yang “dikenal” antara lain:
Dari Anak Laki-Laki
| 1 |
Rakutta Sembiring Brahmana (1914 – 1964). Almarhum Rakutta ini pernah menjadi Kepala Pertabiran Militer Karo yang berkedudukan di Tiganderket (SK Nomor. 62/Ist/D1, 4 April 1949). Terbentuknya Negara Kesatuan RI, pada tanggal 17 Agustus 1950 diangkat menjadi Bupati Kdh Tkt II Karo, berkedudukan di Kabanjahe. Sebelumnya, 27 Maret 1947, pernah dilantik menjadi anggota DPR Kab. Asahan mewakili Tanjung Balai yang pada waktu itu ketuanya dijabat oleh Saidi Mulia dan Wakilnya Syech H. Ismail. Selanjutnya dia diangkat menjadi Bupati KDH Tkt II Asahan, berkedudukan di Tanjung Balai. Kemudian hingga akhir hayatnya dia menjabat Walikota Kdh Tkt II Pematang Siantar. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe. Di Asahan dan Pematang Siantar, Pemerintah Kota ini telah menabalkan namanya menjadi nama jalan di Pematang Siantar dan Asahan dengan nama Jalan Rakutta Sembiring. |
| 2 |
Bangsi Sembiring Brahmana, almarhum, meninggal dunia di tembak Belanda pada tahun 1947. Untuk menghormati jasanya Pemda Kabupaten Karo mentabalkan namanya menjadi nama jalan di Kota Kabanjahe. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe. |
| 3 |
Ngaloken Sembiring Brahmana Almarhum, Penasehat Bidang Seni Budaya Adat Karo Semasa Bupati Karo Dijabat Drs. Rukun Sembiring. No: SK. NO. 70/1982. |
| 4 |
LS Man (Layas Sembiring Brahmana) (1928-2003), almarhum. Penggerak dan Pembina kebudayaan Karo melalui media cetak dengan menerbitkan Majalah Terlong bersama teman-temannya (1955-1965). Pemimpin Redaksi Majalah Tenah (1982-1999) dan Sukut (2001). Dimakamkan di pemakaman keluarga di Kuta Limang. |
| 5 |
dr. Kamsyah Sembiring Brahmana. Pensiunan dari Rumah Sakit Pertamina Jakarta dan saat ini, menjadi Pendeta di Medan. |
| 6 |
H. Imat S. Brahmana, pernah menjabat sebagai Ka KUA Departemen Agama Kabupaten Karo |
| 7 |
Kueteh Sembiring Brahmana, Almarhum, Mantan Kepada PU Kabupaten Karo Semasa Bupati Tampak Sebayang |
| 8 |
Drs Jumpa Sembiring Brahmana, pernah menjabat Direktur APDN Lampung pada tahun 1980-an. |
| 9 |
Drs. Riah R. Sembiring Brahmana, almarhum. Pernah menjabat beberapa Kepala atau Wakil Kepala cabang Bank Bumi Daya di Jakarta dan Tebing Tinggi Sumatera Utara pada era Orde Baru. Dimakamkan di Jakarta. |
Dari Pihak Anak Perempuan
|
1 |
Berkat Kacaribu. Pemilik PO Karona Grup. Berlokasi di Bandar Lampung. Ibunya beru Sembiring Brahmana, keturunan Mangasi Sembiring Brahmana dan Mbelting Sembiring Brahmana. |
|
2 |
Darwan Prinst Almarhum, Penulis Buku Karo Dan Ilmu Hukum |
|
3 |
Darwin Prinst Almarhum, Penulis Kamus Bahasa Karo Dan Buku Ilmu Hukum |
Keturunan Mangasi Sembiring Brahmana dan Mbelting Sembiring Brahmana, kini tidak ada lagi melanjutkan usaha peternakan Kerbau. Para keturunan ini, ada yang menjadi PNS diberbagai bidang, polisi dan lainnya.
2.3 Padang Pengembalaan Kerbau Rih Panjang dan Populasi Hewan Di Kabupaten Karo
Rih Panjang adalah nama tempat padang pengembalaan Mangasi Sembiring Brahmana dan Mbelting Sembiring Brahmana yang berlokasi di Kampung Limang Kecamatan Tigabinanga. Luas arealnya lebih dari 300 hektar.
Memang belum ditemukan data berapa jumlah kerbau yang diternakkan di wilayah ini, namun jumlahnya dahulu diperkirakan cukup banyak. Kerbau-kerbau yang diternakkan di daerah ini sulit ditemukan angka pasti karena kerbau tersebut pada umumnya liar yang dalam bahasa Karo disebut kerbo jalang.
Sebagai gambaran adalah data tentang populasi ternak di Kabupaten Karo dari tahun 1926 sampai tahun 1976 dan 1986 barangkali dapat membantu memprediksikan jumlah kerbau di padang pengembalaan ini.
Perkembangan Populasi Ternak di Daerah Tingkat II Kabupaten Karo pada tahun 1926, 1976 dan 1986 (ekor)
No |
Jenis Ternak |
1926 |
1976 |
1986 |
Pertambahan pertahun selama 60 tahun (%)/thn |
1 |
Sapi Potong |
6.000 |
74.680 |
36.921 |
8,59 |
2 |
Sapi Perah |
- |
- |
254 |
- |
3 |
Kerbau |
19.379 |
26.618 |
18.381 |
- 0,086 |
4 |
Babi |
19.670 |
90.165 |
46.160 |
2,24 |
5 |
Kambing |
- |
5.670 |
6.558 |
0,26 |
6 |
Domba |
- |
584 |
732 |
|
7 |
Ayam Buras |
114.623 |
626.304 |
679.399 |
8,21 |
8 |
Ayam Pedaging |
- |
- |
6.000 |
- |
9 |
Bebek |
- |
10.688 |
10.279 |
0,06 |
Sumber: Disertasi Sadakata Sembiring Brahmana, 1988. |
|||||
Pada tahun 1926, pada jaman penjajah Belanda, jumlah kerbau sebanyak 19.379 ekor. Pada tahun 1976 menyusut menjadi 26.618 ekor dan pada tahun 1986 menyusut menjadi 18.381 ekor.
Dibandingkan dengan jumlah penduduk pada masa jaman penjajah Belanda ini, jumlah kerbau tersebut cukup banyak mengingat penduduk Karo pada masa ini (1926) sebanyak 74.280 jiwa (Sadakata, 1988). Perbandingan antara jumlah kerbau dengan masyarakat pada masa ini 1:2, artinya satu orang penduduk Karo, memiliki 2-3 ekor hewan (Sapi Potong atau Kerbau atau Babi atau Ayam Buras). Padang Pengembalaan Kerbau Limang jelas memberikan sumbangan untuk angka tersebut, malah mungkin lebih besar, bukan 2-3, tetapi bisa 3-4 ekor hewan.
Hewan piaraan kerbau pada masa ini menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan keluarga masyarakat Karo. Fungsinya sebagai status sosial, semakin banyak kerbau yang dimiliki semakin terpandang status sosialnya. Fungsi lain adalah untuk keperluan ritual adat.
Penyusutan populasi Kerbau ini, selain karena terjadinya peralihan fungsi lahan menjadi misalnya kebun jagung atau untuk perluasan perumahan dan sebagainya seperti yang terjadi pada padang pengembaan kerbau Rih Panjang.
Bagaimana penyusutan padang pengembalaan ini (Kerbau) sejak tahun 1926-1976 dan 1986 adalah sebagai berikut:
Penggunaan |
1926 |
1976 |
1986 |
Perubahan 60 tahun |
|||
Wilayah |
Ha |
% |
Ha |
% |
Ha |
% |
(%) |
Pemukiman |
500 |
0,24 |
1.210 |
0,57 |
1.725 |
0.81 |
245,00 |
Tegalan |
29.422 |
13,83 |
48.926 |
23,02 |
50.856 |
23,91 |
72,85 |
Sawah |
6.770 |
3,18 |
14.290 |
6,72 |
16.417 |
7,71 |
142,50 |
Perkebunan Rakyat |
1.203 |
0,57 |
6.425 |
3,027 |
14.320 |
6,73 |
1090,50 |
Hutan Lindung |
101.409 |
47,44 |
80.321 |
37,76 |
78.780 |
37,04 |
-22,31 |
Hutan Produksi |
24.109 |
11,33 |
23.354 |
10,98 |
20.360 |
9,57 |
-15,55 |
Rawa |
2.100 |
0,98 |
1.451 |
0,68 |
1.200 |
0,56 |
-42,85 |
Padang Pengembalaan |
45.300 |
21,30 |
35.669 |
16,77 |
28.059 |
13,18 |
-38,81 |
Lain-Lain |
1.912 |
0,90 |
1.043 |
0,49 |
1.008 |
0,47 |
-47,28 |
Jumlah |
212.725 |
100 |
212.725 |
100 |
212.725 |
100 |
|
Sumber: Disertasi Sadakata Sembiring Brahmana, 1988. |
|||||||
Padang penggembalaan di Kabupaten Karo pada tahun 1926 yang luasnya 45.300 hektar, limapuluh tahun kemudian (1976) menyusut menjadi 35.669 hektar dan pada tahun 1986 menyusut menjadi 28.059 hektar. Penyusutan ini akan terus terjadi hingga tahun 2007 ini. Namun untuk data tahun 2006, penulis belum menemukan data, mengenai angka perubahan alih fungsi.
2.4 Para ahli waris Mendirikan PT. Mangabel
Untuk mempertahankan padang pengembalaan ini sebagai padang pengembalaan, para ahli waris, pernah mengelola dan melanjutkan usaha tersebut. Para ahli waris mendirikan sebuah PT. PT ini diberi nama PT. Mangabel, yang diambil dari nama Mangasi Sembiring Brahmana dan Mbelting Sembiring Brahmana.
PT Mangabel ini didirikan berdasarkan Akte Notaris Malem Ukur Sembiring S.H pada tanggal 4-2-1977 di Medan dengan nomor pendirian No. 10. PT ini berkedudukan di Medan.
Dalam akte notaris di atas pendiri PT Mangabel ini adalah dr. Kamsyah Sembiring dengan persetujuan nama-nama yang tersebut di bawah ini:
Kel. |
No. |
Nama |
I |
|
dr. Kamsyah Sembiring Brahmana |
II |
|
Berdasarkan surat kuasa bermaterai di bawah tangan, atas nama |
|
|
1 |
Layas Sembiring Brahmana (LS Man) |
|
|
2 |
Imat Sembiring Brahmana |
|
|
3 |
Kitatena Sembiring Brahmana |
|
|
4 |
Rajin Sembiring Brahmana |
|
|
5 |
Ny. Malem Sembiring Brahmana, mewakili anak kandungnya Drs. Djumpa Sembiring di Tanjung Karang Lampung dan Drs Riah Sembiring Brahmana di Jakarta. |
|
|
6 |
Ny. Rakutta Sembiring Brahmana, mewakili anak kandungnya, Brahma Sembiring Brahmana di Sentang, Netapken Sembiring Brahmana di Kisaran, dan Muhammad Hijrah Sembiring Brahmana di Jakarta |
|
|
7 |
Radjabayak Sembiring Brahmana |
|
|
8 |
Kueteh Sembiring Brahmana |
|
|
9 |
Lem Sembiring Brahmana |
|
|
10 |
Gun-Gun Sembiring Brahmana |
|
|
11 |
Tanak Sembiring Brahmana |
|
|
12 |
Sura Sembiring Brahmana |
|
|
13 |
Dat Sembiring Brahmana |
|
|
14 |
Sakti Sembiring Brahmana |
|
|
15 |
Tandel Sembiring Brahmana |
|
|
16 |
Panjang Sembiring Brahmana |
|
|
17 |
Perdamen Sembiring Brahmana |