Monday, January 15, 2007

TEMA-TEMA YANG MENGANDUNG OPOSISI BINER DALAM INJIL DAN AL QUR’AN

TEMA-TEMA YANG MENGANDUNG OPOSISI BINER DALAM INJIL DAN AL QUR’AN
Oleh Pertampilan S. Brahmana

1. Pendahuluan
Menurut teori sosiologis tentang agama, asal usul agama telah banyak dikemukakan oleh para sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Para sarjana ini meneliti, sejak kapan manusia mengenal agama dan kepercayaan terhadap Tuhan. Sebagai contoh Dadang Kahmad (Kahmad, 2002:23-30) mengemukakan tujuh teori sosiologis dari agama. Pertama yang disebut dengan teori jiwa, kedua teori batas akal, ketiga teori krisis dalam hidup individu, keempat teori kekuatan luar biasa, kelima teori sentimen kemasyarakatan dan keenam teori wahyu Tuhan. Sebenarnya ada satu lagi teori tentang asal usul agama yaitu teori pengendalian sosial. Dalam pandangan teori ini, kehadiran agama selain berfungsi alam akhirat juga berfungsi untuk duniawi yaitu sebagai alat pengendalian masyarakat, atas nama Tuhan.
Uraian berikut ini mencoba melihat agama dalam perspektif oposisi biner. Oposisi biner adalah suatu paham yang mengajarkan sesuatu itu bersifat dua hal yang berbeda tetapi menyatu, seperti mata uang bersisi dua. Sebagai contoh kalau ada keadilan pasti ada ketidakadilan. Artinya ketidakadilan beroposisi biner dengan ketidakadilan dan ketidakadilan beroposisi biner dengan keadilan.
Yang Beroposisi Biner

Positip
Negatif
Baik
Buruk
Terang
Gelap
Putih
Hitam
Bersih
Kotor
Hidup
Mati
Suci
Kotor
Opisisi Biner dalam bentuk lain

Tuhan
Tidak Tuhan
Ada Tuhan
Tidak Ada Tuhan
Percaya Tuhan
Tidak Percaya Tuhan
Yang Maha Kuasa
Tidak Maha Kuasa
Yang Maha Tahu
Tidak Maha Tahu
Yang Maha Esa
Tidak Maha Esa
Yang Maha Segala Maha
Tidak Maha Segala Maha
Agama
Tidak Agama
Islam
Tidak Islam
Kristen
Tidak Kristen
Hindu
Tidak Hindu
Budha
Tidak Budha
Aliran Kepercayaan
Tidak Aliran Kepercayaan
Rahmatan lil’Alamin’
Tidak Rahmatan lil’Alamin’
Terang Dunia
Tidak Terang Dunia
Garam Dunia
Tidak Garam Dunia
Dan lain-lain.
Tidak dan lain-lain.

Dalam bentuk lain lagi dengan mengambil contoh fungsi agama berdasarkan pendapat Rudolf Pasaribu dan Rifai.
No
Fungsi Agama menurut Rudolf Pasaribu (Pasaribu, 1988:10-13).
Oposisi Binernya
1
agama mengajarkan manusia tentang asal-usulnya
Bukan hanya agama yang mengajarkan manusia tentang asal-usulnya. Kalau agama paling-paling asal usul manusia itu dari Tuhan. Ilmu pengetahuan tidak demikian. Boleh jadi asal usul seorang manusia itu dari rahim ibunya.
2
agama mengajarkan manusia tentang moralitas
Bukan hanya agama yang mengajarkan manusia tentang moralitas, adat istiadat juga lebih dahulu mengajarkan moralitas. Dalam sejarah kehidupan manusia di dunia ini, adat istiadat (kebudayaan) yang lebih dahulu ada baru menyusul agama.

agama mengajarkan manusia menghargai dan menghormati orang lain
Bukan hanya agama yang mengajarkan manusia menghargai dan menghormati orang lain, adat istiadat atau realitas juga memaksa manusia menyadari bahwa dia bukan sendiri hidup di dunia ini, karena itu harus belajar menghormati orang lain, agar dia juga dihormati.
4
agama mengajarkan manusia tentang tujuan kehidupan

5
agama mengajarkan manusia memelihara keseimbangan
Bukan hanya agama yang mengajarkan manusia memelihara keseimbangan. Adat istiadat juga mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan.
6
agama memberikan bimbingan dalam hidup
Bukan hanya agama yang memberikan bimbingan dalam hidup. Etika juga memberikan bimbingan dalam kehidupan ini.
7
agama menentramkan batin
Bukan hanya agama yang menentramkan batin.

No
Faedah agama terhadap kehidupan manusia menurut Rifai (1984:17-18).
Opisisi Binernya
1
agama mendidik manusia supaya mempunyai pendirian yang tentu dan terang, manusia mempunyai sikap yang positip dan tepat
Bukan hanya agama yang mampu mendidik manusia supaya mempunyai pendirian yang tentu dan terang, dan bersikap secara positip dan tepat
2
agama mendidik manusia supaya tahu mencari, memiliki ketentraman jiwa. Orang yang beragama dapat merasakan bagaimana besarnya pertolongan agama pada dirinya, lebih-lebih ketika dia ditimpa kesusahan dan kesulitan
Bukan hanya agama yang mampu mendidik manusia supaya tahu mencari, memiliki ketentraman jiwa. Orang yang beragama memang dapat merasakan bagaimana besarnya pertolongan agama pada dirinya, lebih-lebih ketika dia ditimpa kesusahan dan kesulitan, tetapi orang yang tidak beragama juga dapat merasakan hal yang sama dengan caranya sendiri.
3
agama adalah suatu alat untuk membebaskan manusia dari perbudakan materi. Agama mendidik supaya orang jangan dapat ditundukkan oleh materi dan benda. Manusia disuruh tunduk hanyalah kepada Allah yang Maha Esa. Agama memberi modal supaya manusia berjiwa besar, kuat dan tidak gampang ditundukkan oleh siapapun
Bukan hanya agama alat untuk membebaskan manusia dari perbudakan materi. Agama memang mendidik supaya orang jangan tunduk kepada materi atau benda. Tetapi kenyataannya politisasi agama oleh pengikutnya untuk mencari materi duniawi adalah contoh agama diarahkan untuk mencari materi atau benda. Bukan hanya agama yang mampu memberi modal supaya manusia berjiwa besar, kuat dan tidak gampang ditundukkan oleh siapapun.
4
agama mendidik manusia supaya berani menegakkan kebenaran dan takut untuk melakukan kesalahan. Kita mengerti kalau kebenaran sudah tegak, di sanalah manusia akan mendapat kebahagian dunia dan akhirat
“Bukan hanya agama yang mampu mendidik manusia supaya berani menegakkan kebenaran dan takut untuk melakukan kesalahan” tidak sepenuhnya benar. Membela, harga diri yang dicurangi, hak asasi seseorang dilanggar juga mendorong orang menuntut ditegakkannya kebenaran.
Kalau hak-hak tersebut sudah dipenuhi manusia akan mendapat kebahagian dunia.
5
agama banyak memberikan sugesti kepada manusia agar dalam jiwa mereka tumbuh sifat-sifat utama, seperti rendah hati, sopan santun, hormat menghormati dsb. Agama melarang orang agar jangan bersifat sombong, congkak, merasa tinggi dan sebagainya,
Bukan hanya agama yang mampu memberikan sugesti kepada manusia agar di dalam jiwa manusia tumbuh sifat-sifat utama, seperti rendah hati, sopan santun, hormat menghormati dsb. Bukan hanya agama yang melarang jangan bersifat sombong, congkak, merasa tinggi dan sebagainya, yang bukan agama juga ada yang melarang tumbuhnya sifat-sifat tersebut. Sebab melalui sifat-sifat tersebut seseorang yang bersifat tersebut di atas akan dijauhi oleh orang lain, dan ini bertentangan dengan eksistensi manusia itu sendiri, bahwa manusia itu punya harga diri karena ada orang lain. Manusia itu pada dasarnya bukan mahluk individualis. Manusia memerlukan orang lain dalam hidupnya.
6
agama mendidik orang supaya untuk kemakmuran masyarakat dan negara dianggapnya sebagai amal saleh dan sebagainya
Bukah hanya agama yang mendidik orang supaya beramal saleh dan sebagainya.
Demikianlah seterusnya kita dapat menyebutkan contoh-contoh lain.
Pertanyaan besar kemudian muncul, siapakah di balik opisisi biner ini? Kelompok penganut teologi wahyu mengatakan Tuhan Yang Maha Esa. Kelompok pengikut teologi oposisi biner juga mengatakan Tuhan Yang Maha Esa. Bedanya kelompok penganut teologi wahyu mendasarkan fakta, sedangkan kelompok penganut teologi oposisi biner mendasarkannya kepada faktual, di balik yang faktual adalah Tuhan Yang Maha Esa. Di balik gejala alam, di balik tarik menarik antara benda-benda alam (yang beropisisi biner), pasti ada yang menatanya, yaitu yang kita sebut Tuhan Yang Maha Esa. Artinya dengan dengan memikirkan ciptaan Tuhan, mengenal Tuhan.

2. Wacana dan Realitas
Bila dicermati ceramah-ceramah agama baik yang dilakukan oleh pihak Islam maupun pihak Kristen, keduanya menggambarkan kedua agama tersebut penuh dengan kelembutan, kasih sayang. Para penceramah mempromosikan Tuhan dengan “yang dikasihi Allah”, “yang di rahmati Allah”, yang dimuliakan Allah” atau “yang dimuliakan Tuhan”, “yang diberkati Tuhan” dan sebagainya. Allah atau Tuhan digambarkan mengasihi semua manusia, khususnya manusia yang mendengarkan ceramah mereka.
Allah Maha Kuasa
AL-KITAB
AL-QUR’AN
Yeremia 32: 17-18
17. Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!

18. Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu-ribu orang dan yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang datang kemudian. Ya Allah yang besar dan perkasa, nama-Mu adalah TUHAN semesta alam.
Ali Imran: 189
kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.


Keluaran 6: 2

Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.


Al-Baqarah: 164

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Dalam Yeremia 32: 17-18, dan Keluaran 6: 2 (Kristen), Ali Imran: 189, dan Al-Baqarah: 164 (Islam) jelas menyebutkan Tuhan Maha Kuasa. Sebagai Yang Maha Esa, tentu DIA berkuasa atas segala ciptaannya. Manusia tentu tidak punya hak untuk merubah (merusaknya), kalau pun ada manusia berani merubah, merusak Ciptaannya tersebut tentulah Tuhan Yang Maha Esa tersebut memberikan mandat kepada orang yang disuruhnya tersebut,
Kemudian dalam Alkitab tema-tema Kasih terdapat dalam ayat-ayat alkitab seperti di bawah ini.
Matius 19:19

hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Matius 22:39
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Markus 12:31

Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.
Lukas 10:27

Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Roma 13:8

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.
Roma 13:9

Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
Roma 13:10

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Galatia 5:14

Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
Yakobus 2:8

Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.
Imamat 19:18

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.
Markus 12:33

Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.
Dalam Al Qur’an antara lain terdapat dalam ayat berikut ini.
An Nisaa’ 36
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
Tema-tema di atas menjelaskan, menganjurkan agar berbuat baik kepada ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat. Berbuat baik dapat dalam bentuk mengasihi, membantu para tetangga, para saudara kita yang berbeda agama atau suku keluar dari kesulitan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu bagaimana kita memahami kekuasaan Tuhan yang Maha Esa (Yeremia 32: 17-18, dan Keluaran 6: 2 (Kristen), Ali Imran: 189, dan Al-Baqarah: 164 (Islam) dengan realitas seperti yang dipetakan almarhum Nurcholis Madjid di bawah ini. Apakah manusia telah berbuat baik kepada ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat. Atau dalam pengertian lain mengasihi, membantu para tetangga, para saudara kita yang berbeda agama atau suku keluar dari kesulitan yang dihadapinya? Bernahkah Tuhan itu menganjurkan kekerasan terhadap antar sesama umatnya (sesama ciptaannya)?
Peta dunia sekarang (1993), menurut almarhum Nurcholis Madjid (Madjid, 1993:7-8), sedang ditandai oleh konflik-konflik dengan warna keagamaan. Meskipun agama bukanlah satu-satunya faktor, namun jelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam konflik-konflik itu dan dalam eskalasinya sangat banyak memainkan peranan. Di ujung paling utara, di Irlandia ialah pertentangan tidak berkesudahan antara kaum Katolik dan kaum Protestan. Dan di tengah-tengah Eropah, sekitar Perancis dan Jerman, sedang terjadi konflik-konflik yang malu-malu disebut bernuansa keagamaan (karena akan menodai “liberalisme” mereka) dan terbungkus rasialisme atau kepentingan ekonomi terhadap para pekerja asing yang kebanyakan beragama Islam. Sedikit ke selatan, dan masih dalam wilayah Eropah, kita mendapati bentuk paling baru konflik dengan banyak warna keagamaan yaitu di Bosnis-Herzegivina. Kemudian di Cyprus, betapun juga pertentangan antara mereka yang keturunan Turki dan yang keturunan Yunani tetap sedikit banyak diwarnai oleh sentimen keagamaan. Konflik-konflik di Palestina khususnya Timur Dekat umumnya yang melibatkan kaum Yahudi, Muslim dan Kristen, dengan faksi masing-masing yang cukup membingungkan, hampir merupakan anomali bagi sebuah tempat buaian peradapan manusia yang paling berpengaruh, dan jelas anakronistik bahwa kaum Yahudi hendak mendirikan negara agama di zaman moderen atas bantuan negara moderen. Dan di Afrika Hitam pun konflik-konflik dengan warna keagamaan juga tidak mudah disembunyikan. Di Sudan ada konflik antara Islam yang “Arab” di sebelah Utara dan Kristen yang “Negro” di sebelah Selatan. Belum lagi konflik-konflik karena rasialisme dan paham apartheid, yang juga mengundang keterlibatan berbagai tokoh keagamaan (Kristen). Negeri-negeri Timur Tengah yang lain, juga diramaikan oleh konflik-konflik dengan warna keagamaan, sebagian daripadanya sungguh dramatis. Tidak saja konflik antara Irak dan Iran merupakan konflik antara pemerintah yang berturut-turut didominasi oleh Islam Sunni dan Islam Syi’i, bahkan juga masing-masing pihak dengan jelas menggunakan simbol-simbol keagamaan, seperti heorisme Q’adisiyyah dari pihak Irak dan jihad melawan thaghut (tiran) yang jelas ateis dari pihak Iran. Perang teluk yang dahsyat itu secara resmi terhindar dari pewarnaan keagamaan, namun tidak luput terjadi persepsi populer yang aneh di sementara kalangan bahwa perang itu adalah perang antara Islam (Irak) melawan kekafiran (Kuwait, Saudi, Syria, Mesir, yang dibantu negeri-negeri Barat khususnya Amerika)!. Dan jika kita teruskan ke Timur, kita melewati Afghanistan yang masih dalam kemelut konflik-konflik politik dengan tema perebutan keabsahan menurut jenis penganut keagamaan (Islam) mereka. Anak Benua sekitarnya juga meriah dengan percekcokan keagamaan: Islam Sunnah lawan Islam Syi’ah di Pakistan, Hindu lawan Islam di India, Hindu lawan Budhisme (dan Islam) di Srilangka, dan Budhisme lawan Islam di Burma dan Thailand. Di Filipina kita sudah lama mengetahui adanya konflik yang berlarut-larut antara Katolik dan Islam. Di tempat-tempat lain, konflik keagamaan itu jelas selalu merupakan potensi yang syukurlah belum, tidak atau malah tidak akan terbuka.
Apa yang dipetakan oleh almarhum Nurcholis Madjid, masih dapat kita lihat berdasarkan berita-berita di media massa cetak dan elektronik. Artinya pemetaan tersebut di atas masih belum hilang. Masih dapat kita dengar dan baca.
Tambahan lagi kasus Ambon dan Poso (di Indonesia). Ketika hangat-hangatnya konflik di Ambon, banyak yang kaget, tersentak seakan tidak percaya dan tidak dapat berkomentar apa-apa lagi ketika terjadi pembunuhan, perusakan terhadap harta benda seseorang atas nama agama. Bagaimana Tuhan itu mengijinkan seseorang itu melakukan pembunuhan, perusakan terhadap ciptaannya sendiri?
Bukti konflik Ambon adalah konflik antar umat beragama, karena banyak yang mencitrakan konflik di Ambon adalah konflik antara (masyarakat Maluku) yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen. Pihak masyarakat Maluku yang beragama Islam menyebut gerakan perlawanan mereka dengan jihad. Penggunaan jihad untuk membenarkan kekerasan terhadap pihak Kristen. Jihad dianggap sebagai upaya terakhir pihak Muslim menghentikan pemberontakan orang Kristen di Maluku. Dalam pandangan pihak Islam ada pemberontakan orang Kristen di Maluku.
Mereka yang mencitrakan konflik ini adalah konflik antara Islam vs Kristen adalah antara lain Ustadz Ja’far Umar Thalib, Panglima Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah jelas-jelas mengatakan tujuan mereka datang ke Ambon adalah untuk memenuhi kewajiban agama islam berdasarkan fatwa anjuran ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seperti Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahumullah (seorang ahli hadits terkemuka di Yaman) dan Syaikh Rabi bin Hadi (Makkah). Para ulama tersebut telah memfatwakan bahwa jihad ke Ambon adalah fardhu ‘ain bagi muslimin di Indonesia.
Kemudian Rustam Kastor dalam bukunya Fakta, Data dan Analisa: Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon, Maluku, Rustam Kastor menggunakan ayat-ayat Qur’an sebagai dasar hukum berjihad di Maluku. Rustam Kastor mengutip Hadits Nabi SAW; mendefinisikan orang Islam dan orang beriman, sebagai berikut;
Bersabda Nabi Saw.: “ Orang mukmin ialah, orang yang melindungi darah dan harta kaum muslimin. Dan orang muslim ialah, orang yang dengan lidah dan tangannya selamat sejahtera kaum muslimin”. (Hr. Bukhari-Muslim)
Ketaatan Ummat Islam kepada negara (Ulil Amri) dalam rangka ketaatannya kepada ajaran Al-Qur’an dan Rasulullah SAW. Dengan demikian semua ketentuan hukum, peraturan perundang-undangan yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara dalam seluruh aspek kehidupan bangsa yang tidak bertentangan dengan Qur’an dan sunnah Nabi, serta bertujuan menjamin rasa aman, keselamatan dan kesejahteraan sosial, wajib ditaati ummat Islam. Sebaliknya semua rencana, upaya dan aksi yang menuju kepada tercabutnya rasa aman, hilangnya keselamatan dan merosotnya kesejahteraan sosial, wajib diberantas dan diperangi oleh Ummat Islam.
Bagaimana kita menserasikan wacana para penceramah tersebut di atas “yang dikasihi Allah”, “yang di rahmati Allah”, yang dimuliakan Allah” atau “yang dimuliakan Tuhan”, “yang diberkati Tuhan” dengan realitas seperti yang dikemukakan oleh Nurcholis Madjid tersebut?
3. Agama dan Opisisi Biner
Jawaban atas pertanyaan bagaimana kita menserasikan wacana para penceramah tersebut di atas “yang dikasihi Allah”, “yang di rahmati Allah”, yang dimuliakan Allah” atau “yang dimuliakan Tuhan”, “yang diberkati Tuhan” dengan realitas seperti yang dikemukakan oleh Nurcholis Madjid tersebut adalah bahwa agama berdimensi opisisi biner, bahwa tema-tema dalam kitab suci mengandung opisisi biner.
3.1 Maha Tahu, Maha Kuasa
Di dalam dalam Alkitab dan Al Qur’an, jelas-jelas dikemukakan bahwa Tuhan itu adalah Maha Segala Maha, Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha mengetahui dan lainnya.
Allah Maha Kuasa
AL-KITAB
AL-QUR’AN

Yeremia 32: 17-18

17. Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!

18. Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu-ribu orang dan yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang datang kemudian. Ya Allah yang besar dan perkasa, nama-Mu adalah TUHAN semesta alam.

Ali Imran: 189

kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.


Keluaran 6: 2

Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.


Al-Baqarah: 164

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Di balik yang tersurat berdasarkan ayat-ayat di atas, jelas Tuhanlah sipemilik isi bumi ini beserta isinya. DIA-lah yang maha tahu, maka kuasa atas semuanya. Istilah dalam tasauf hubungan manusia dengan Tuhan disebut antara pencipta (Tuhan) dan ciptaannya (Manusia beserta seluruh isi bumi ini).
3.2 Ayat-Ayat Yang Mendorong Ketidakmahaan Tuhan
Ternyata di balik wacana Kemahaannya, ternyata Tuhan juga tidak Maha Esa, tidak Maha Tahu, di tangan kelompok orang-orang tertentu.
Tema-tema ketidakmahaan Tuhan ini dapat dilihat dalam tema-tema ayat berikut ini.
3.2.1 Alkitab
Imamat 24:16

“Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jamaah itu. Baik yang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama tuhan, haruslah dihukum mati”
Lukas 12:49

“AKU datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah AKU harapkan, api itu telah menyala ! “
Lukas 19:27.
“Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka Aku menjadi rajanya, bawalah mereka kemari dan BUNUHLAH mereka di depan mata-Ku”
Matius 10:34

“Jangan kamu menyangka bahwa AKU datang untuk membawa damai di atas bumi; AKU datang bukan untuk membawa DAMAI melainkan pedang.
Matius 25:30

“Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.
Samuel 1.15:3

“Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan padanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai “
Lukas 2:51

“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan PERTENTANGAN “
Ulangan 20:16

“Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apapun yang bernafas “
Yosua 6:21

“Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun PEREMPUAN, baik TUA maupun MUDA, sampai kepada LEMBU, DOMBA, dan KELEDAI”
3.2.2 Al Qur’an
Surah al-Taubah: 41

“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta. dan dirimu dijalan Allah.Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Surah al-Taubah: 73

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”
Surah al-Taubah 123
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Surah al-Furqaan: 52
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al- Qur’ an dengan jihad yang besar.”
Surah al-Baqarah 193

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”
Surah al-Anfal 39

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”
Surah al-’Ankabuut: 6
“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu. adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Surah al-’Ankabuut: 69

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjúkkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Tema-tema dalam ayat di atas, pada umumnya tema yang berunsur kekerasan, anjuran berbuat kekerasan untuk membasmi yang dianggap kejahatan. Seharusnya kalau Tuhan sudah Maha Esa, Dia jelas tidak memerlukan orang lain (manusia) untuk “membasmi kejahatan” yang dilakukan manusia itu sendiri. Peta seperti yang dikemukakan oleh almarhum Nurcholis Madjid di atas dan citra konflik Ambon dan Poso, jelas tidak ada pernah terjadi di muka bumi ini, sebab Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta, akan bekerja dengan caranya sendiri. Seharusnya Tuhan Maha Esa sudah mengantisipasi penyalahgunaan ajarannya misalnya dengan memberikan mandat kepada seseorang untuk mengawal dan meluruskan ajarannya bila disalahgunakan. Ternyata hingga hari ini mandat itu tidak pernah kita lihat. Mandat yang ada hanyalah ciptaan manusia sendiri. Ada kelompok manusia merasa mewakili Tuhan walaupun Tuhan tidak pernah memberikan mandat kepadanya.
Kenyataan ini (perbedaan 3.1 vs 32 di atas) menunjukkan bahwa bahwa tema-tema dalam kitab suci juga tidak dapat dilepaskan dari oposisi biner (pasangan yang bertolakbelakang), menyatu, seperti mata uang bersisi dua.
Sisi yang satu mengajarkan humanisme, sisi yang lain mendorong dehumanisasi. Pengunaan atas tema-tema tersebut di atas akhirnya bergantung kepada pelaku dan untuk kepentingan si pelaku, apakah secara individu, atau kelompok.
Dari satu sisi kepentingan, agama digunakan untuk menghargai kemanusiaan, kemajemukan, pluralisme (sosiologi) di sisi kepentingan lain agama tidak dapat menerima pluralisme, kemajemukan (ideologi). Sekarang bergantung siapa yang berdiri pada sisi-sisi tersebut. Maka ada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat kultural dan ada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat politik.
Gerakan keagamaan yang bersifat kultural, selalu menganjurkan perdamaian, penegakan atas hak asasi manusia secara universal yang melampaui batas agama, batas negara, batas etnis, sedangkan gerakan keagamaan yang bersifat politik (merebut kekuasaan), anjuran-anjuran perdamaian tersebut mereka reduksi. Ketika posisi kepentingan individunya atau kelompoknya tidak menguntungkan, tema-tema tertentu dari kitab sucinya (agamanya) dijadikan alat pembenar untuk memberangus kelompok yang merugikan kepentingannya. Hal yang sama dalam bentuk yang lebih ramah juga terjadi pada gerakan keagamaan yang bersifat kultural. Kelompok seperti ini sangat menghargai hak asasi manusia, demokrasi dan system yang menciptakan kebaikan kepada sebagian besar umat manusia. Kedua unsur di atas, dalam berbagai nama dan bentuk akan terus tarik menarik selama manusia masih ada di dunia ini.
Konflik yang terjadi di Maluku, Maluku Utara, Poso dan penzaliman atas nama agama, adalah bukti agama menjadi sumber aspirasi, sumber kepentingan golongan adalah produk dari tema-tema dalam ayat-ayat suci yang mengandung oposisi biner.
4. Penutup
Mengapa pada satu sisi, agama dikatakan penuh dengan kedamaian, sumber kedamaian, tetapi disisi lain, justru sumber diskriminasi, sumber konflik? Jawabannya sederhana, yaitu agama terlilit oposisi biner. Dari sisi A penuh dengan kedamaian, dari sisi B, menjadi sumber inspirasi munculnya ketidakdamaian.
Opisisi biner ini seperti perumpamaan tentang positip dan negatif (negatif jangan dipahami jelek, atau jahat). Positip dan negatif bagai pedati dengan bayang-bayangnya. Pedati adalah positip, bayang-bayang pedati adalah negatif. Kemana pun pedati berjalan, bayang-bayangnya tetap menyertainya. Bila cahaya dari depan, maka bayang-bayang pedati berada di belakang, bila cahaya arahnya dari belakang, maka bayang-bayang pedati berada di depan. Tema-tema ayat dalam kitab suci juga demikian. Sekarang dari titik pandangan mana seseorang itu berbicara tentang Tuhan. Titik pandang yang berbeda menghasilkan hasil yang berbeda pula.
Pustaka
Al Quran Online
Alkitab Online
Kahmad, Dadang. 2002. Sosiologi Agama. Bandung: PT. Rosdakarya
Kastor, Rustam. Fakta, Data dan Analisa: Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon, Maluku.
Madjid, Nurcholish. 1993. Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan Untuk Generasi Mendatang, dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an. Nomor I, Vol IV. Jakarta.
Pasaribu, Rudolf. 1988. Agama Suku dan Batakologi. Medan: Pieter.
Rifai, Moh. 1984. Perbandingan Agama.
Penulis adalah Magister Kajian Budaya dengan Pengkhususan Sistem Pengendalian Sosial, dan Staf Pengajar Pada Fak. Sastra Universitas Sumatera Utara Medan.
Posted by Pertampilan S. Brahmana in 03:11:34 | Permalink | Comments Off